PROBOLINGGO, PortalProbolinggo.com – Inovasi pertanian modern yang dikembangkan generasi muda di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mendapat perhatian dari Tenaga Ahli Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Ahmad Abdul Qodir atau yang akrab disapa Gus Qodir.
Pada Jumat (16/10/2026), Gus Qodir mengunjungi langsung lokasi budidaya melon hidroponik milik Erik Susanto, seorang pemuda asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang berhasil mengembangkan usaha pertanian modern dengan peluang pemasaran hingga tingkat internasional.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengangkat potensi pertanian berbasis teknologi yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta pengembangan sistem budidaya yang tidak bergantung sepenuhnya pada perubahan musim.
Erik Susanto sendiri merupakan lulusan akuntansi yang memilih menekuni dunia pertanian. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang pertanian, ia mampu mengembangkan budidaya melon menggunakan sistem hidroponik.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Gus Qodir. Menurutnya, langkah Erik menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan perubahan di sektor pertanian melalui kreativitas, keberanian berusaha, dan pemanfaatan teknologi.
“Saya bangga melihat anak muda seperti Erik Susanto yang mampu menghadirkan inovasi di sektor pertanian. Ini membuktikan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk ikut memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian,” ujar Gus Qodir.
Tidak Bergantung Sepenuhnya pada Musim
Salah satu keunggulan budidaya melon hidroponik yang dikembangkan Erik adalah peluang melakukan penanaman secara lebih terencana sepanjang tahun.
Melalui pengaturan nutrisi, pengairan, dan kondisi lingkungan budidaya, petani dapat mengelola produksi dengan lebih terkendali dibandingkan sejumlah metode pertanian konvensional yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
Dengan penerapan teknologi dan fasilitas budidaya yang memadai, penanaman melon dapat dilakukan tanpa harus sepenuhnya menunggu musim tertentu. Meski demikian, pengendalian suhu, kelembapan, serta faktor lingkungan tetap diperlukan untuk menjaga kualitas tanaman.
Sistem tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha pertanian untuk menyusun jadwal tanam dan panen secara berkelanjutan sehingga pasokan produk dapat lebih terjaga.
Berpeluang Menggerakkan Ekonomi Desa
Selain mendukung pengembangan sektor pangan, pertanian hidroponik juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perdesaan.
Pengembangan usaha pertanian modern dapat menciptakan peluang pekerjaan, mulai dari pengelolaan tanaman, perawatan instalasi, pemanenan, pengemasan, hingga pemasaran hasil produksi.
Apabila dikembangkan secara luas dan berkelanjutan, model usaha tersebut berpeluang melibatkan masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Gus Qodir menilai bahwa inovasi generasi muda perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi ekonomi desa.
Menurutnya, desa tidak hanya memiliki peluang sebagai wilayah penghasil komoditas pertanian, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang didukung teknologi dan kewirausahaan.
“Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan generasi muda. Ketika anak-anak muda berani berinovasi dan membangun usaha pertanian, mereka ikut berkontribusi terhadap kemandirian pangan bangsa,” katanya.
Mengurangi Ketergantungan terhadap Pupuk Subsidi
Keunggulan lain dari sistem hidroponik yang diterapkan dalam budidaya melon tersebut adalah penggunaan nutrisi tanaman yang berasal dari produk nonsubsidi.
Berbeda dengan sejumlah metode pertanian konvensional yang menggunakan pupuk bersubsidi, sistem hidroponik memanfaatkan larutan nutrisi khusus yang diberikan secara terukur sesuai kebutuhan tanaman.
Penggunaan nutrisi nonsubsidi tersebut membuat kegiatan budidaya tidak bergantung pada ketersediaan maupun alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah.
Hal ini dapat menjadi alternatif bagi pelaku usaha pertanian dalam mengelola kebutuhan nutrisi tanaman secara mandiri, meskipun biaya operasional dan efisiensinya tetap bergantung pada skala usaha serta pengelolaan budidaya.
Dengan demikian, pengembangan hidroponik berpotensi memperluas pilihan sistem pertanian yang tidak mengandalkan pupuk subsidi, sekaligus mendorong penerapan teknologi pemupukan yang lebih terukur.
Gus Qodir Dorong Anak Muda Kembangkan Pertanian Modern
Melihat inovasi yang dikembangkan Erik Susanto, Gus Qodir berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni sektor pertanian.
Ia menilai pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk menjawab tantangan pertanian masa depan, termasuk regenerasi petani, peningkatan produktivitas, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Selain itu, pengembangan pertanian modern dinilai membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, pelaku usaha, hingga lembaga terkait, terutama dalam hal akses teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan perluasan pasar.
Bagi Gus Qodir, inovasi yang tumbuh dari daerah seperti Kabupaten Probolinggo memperlihatkan bahwa pengembangan potensi ekonomi tidak harus selalu dimulai dari kawasan industri besar.
Melalui kreativitas masyarakat dan pemanfaatan sumber daya lokal, daerah memiliki peluang menghadirkan produk pertanian bernilai ekonomi dengan daya saing yang semakin luas.
Sementara itu, budidaya melon hidroponik milik Erik Susanto menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam pengembangan pertanian modern.
Dengan sistem budidaya yang lebih terencana, penggunaan nutrisi nonsubsidi, serta peluang pasar yang luas, model pertanian tersebut berpotensi dikembangkan sebagai alternatif usaha produktif bagi masyarakat.
Kunjungan Gus Qodir ke lokasi budidaya melon hidroponik ini sekaligus menyoroti pentingnya kolaborasi antara inovasi generasi muda dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal dalam mendukung ketahanan pangan nasional.(Adc)