-->

Notification

×

Festival Kopi Bermi Ecopark Angkat Potensi Kopi Organik dan Sinergi Tembakau-Kopi Probolinggo ke Panggung Nasional

Selasa, 11 November 2025 | November 11, 2025 WIB | Last Updated 2025-11-11T09:59:00Z

PROBOLINGGO - Suasana Bermi Ecopark, Kecamatan Krucil, akhir pekan ini dipenuhi aroma khas kopi pegunungan Argopuro. Selama dua hari, 8-9 November 2025, Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Pertanian menggelar Festival Kopi yang menjadi bagian dari rangkaian besar Seven Lakes Festival 2025. Acara ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan daerah, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem kopi dan tembakau di Probolinggo.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Arif, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival kopi di Bermi Ecopark merupakan upaya strategis untuk mengangkat potensi komoditas unggulan daerah ke tingkat nasional. “Kecamatan Tiris dan Krucil adalah dua wilayah penghasil kopi terbesar di Kabupaten Probolinggo. Melalui festival ini, kami ingin agar kopi Probolinggo mendapat perhatian lebih luas dan dikenal karena kualitas serta cita rasanya yang khas,” ujarnya.

Arif menambahkan bahwa penyelenggaraan festival ini dirancang bukan sekadar hiburan, tetapi juga wadah edukasi dan promosi bagi petani serta pelaku usaha kopi. “Kami ingin kopi Probolinggo naik kelas. Selain mengenalkan hasil panen, kami juga mempertemukan petani, pelaku coffee shop, dan industri olahan agar muncul jejaring ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Menariknya, dalam festival tahun ini, kopi tidak berdiri sendiri. Ada kolaborasi dengan sektor lain, salah satunya tembakau. Arip, perwakilan dari Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), menilai hubungan antara kopi dan tembakau adalah sinergi kultural yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat. “Tembakau dan kopi itu tidak bisa dipisahkan. Se seruput kopi, satu sedot rokok-keduanya punya filosofi kebersamaan dan kenikmatan hidup. Kehadiran festival ini sangat membantu kami para petani, baik kopi maupun tembakau, untuk bisa berkembang bersama,” ungkapnya.

Selain kopi dan tembakau, festival ini juga menampilkan berbagai inovasi pertanian berwawasan lingkungan. Ika Rahmawati dari Balai Besar Proteksi Tanaman dan Perkebunan Surabaya menuturkan bahwa pihaknya berpartisipasi dalam memberikan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya sistem pertanian organik. “Stand kami mungkin berbeda dari yang lain, karena kami fokus pada edukasi pertanian berwawasan lingkungan. Proses budidaya tanaman yang sehat berawal dari pertanian organik,” jelasnya.


Ika menambahkan bahwa timnya mengajarkan langsung praktik budidaya kopi yang baik dan sehat agar menghasilkan biji berkualitas tinggi. “Kami mengenalkan pembenah tanah, jamur 
bioferia untuk mengendalikan hama, pupuk cair untuk menambah nutrisi tanah dan tanaman, serta pupuk organik padat untuk memperbaiki struktur tanah. Semua ini agar kopi yang kita hasilkan benar-benar berkualitas dari akar hingga seduhan,” ujarnya.


Lebih jauh, Ika juga mengungkapkan bahwa di wilayah Krucil telah terbentuk komunitas petani organik yang aktif mengembangkan praktik pertanian ramah lingkungan di beberapa desa. “Petani-petani di sini memiliki semangat maju luar biasa. Mereka tidak hanya ingin menghasilkan kopi, tapi juga menjaga keseimbangan alam. Kami ingin menggaungkan kembali semangat 
kopi organik dan pertanian berkelanjutan,” tambahnya.


Sementara itu, 
Misli, petani kopi asal Desa Guyangan yang juga aktif mensosialisasikan kopi organik, menyampaikan bahwa pendekatan baru ini membawa perubahan positif bagi petani. “Kami di sini sama-sama belajar bagaimana membuat tanah tetap sehat dengan pupuk organik. Kalau tanahnya sehat, hasil kopinya juga bagus. Ini investasi jangka panjang bagi kami para petani,” ujarnya dengan semangat.


Rangkaian Festival Kopi Bermi Ecopark juga menampilkan Manual Brew Competition yang diikuti 51 peserta dari berbagai daerah seperti Pamekasan, Temanggung, Lombok, Malang, dan Probolinggo. Kompetisi ini menjadi ajang unjuk kemampuan para barista dalam meracik kopi dengan teknik manual. Iwan dari Pamekasan berhasil menjadi Juara 1, disusul Rifki dari Temanggung, Rafi dari Surabaya, dan Bimantara dari Kota Probolinggo.


Selain lomba, terdapat pula penghargaan bagi stand terbaik, yang dimenangkan oleh Kecamatan Tiris (Juara 1), Kecamatan Krucil (Juara 2), Kecamatan Sumber (Juara 3), dan Peti Koin Bermantra (Juara 4).


Dengan keberagaman kegiatan dan partisipasi lintas sektor, Festival Kopi Bermi Ecopark 2025 berhasil memadukan potensi wisata, edukasi, dan ekonomi rakyat. Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo menegaskan bahwa kegiatan ini akan dijadikan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan musim panen kopi, antara Juli hingga Oktober.

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->