-->

Notification

×

Merawat Ingatan, Menjaga Ikatan: Tradisi Pertemuan Keluarga di Lereng Argopuro

Selasa, 24 Maret 2026 | Maret 24, 2026 WIB | Last Updated 2026-03-24T04:26:59Z

Di tengah percepatan modernitas yang kerap menggerus nilai-nilai komunal, masyarakat di lereng Gunung Argopuro justru menunjukkan wajah lain dari Indonesia: keteguhan dalam merawat tradisi, menjaga silaturahmi, dan memelihara identitas kolektif keluarga lintas generasi. Tradisi pertemuan keluarga yang berlangsung setiap momentum Lebaran bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan praktik sosial yang sarat makna menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang kebersamaan.

Secara historis, tradisi ini berangkat dari kebiasaan saling mengunjungi antaranggota keluarga besar. Namun, uniknya, intensitas kunjungan yang tinggi kerap menghadirkan paradoks sosial: keluarga yang datang tidak selalu bertemu dengan tuan rumah, karena masing-masing sedang melakukan kunjungan serupa ke keluarga lain. Fenomena ini bukan sekadar anekdot budaya, melainkan mencerminkan tingginya mobilitas sosial berbasis relasi kekeluargaan sebuah bentuk networked kinship yang dalam kajian sosiologi dipahami sebagai jejaring sosial berbasis ikatan darah dan afeksi (Granovetter, 1973).

Dalam praktik kontemporer, tradisi ini mengalami transformasi yang menarik. Jika dahulu buah tangan berupa makanan siap santap seperti nasi dan daging sapi menjadi simbol kepedulian dan berbagi, kini telah bergeser menjadi bahan mentah seperti beras, mi instan, gula, dan sembako lainnya. Pergeseran ini tidak dapat dipahami sebagai degradasi nilai, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ekonomi dan rasionalitas praktis masyarakat. Dalam perspektif antropologi ekonomi, perubahan bentuk pemberian ini mencerminkan pergeseran dari consumption - based gift menuju utility - based gift, di mana nilai guna menjadi pertimbangan utama (Mauss, 1925; Sahlins, 1972).


Namun, inti dari tradisi ini tetap terjaga: silaturahmi sebagai fondasi sosial. Bahkan, dalam bentuk yang lebih terstruktur, muncul tradisi reuni keluarga besar yang melibatkan lintas generasi dari keturunan pertama hingga ketujuh. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang reproduksi identitas keluarga melalui pembacaan silsilah, pengenalan anggota baru, serta ritual keagamaan seperti tahlilan untuk mendoakan para leluhur.


Salah satu contoh konkret adalah pertemuan keluarga besar Bani Tia Sanidan, yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun secara bergiliran di rumah anggota keluarga. Dalam forum ini, silsilah keluarga dibacakan kembali sebagai bentuk dokumentasi hidup yang terus diperbarui. Setiap kelahiran, pernikahan, atau perubahan status dalam keluarga dicatat dan diperkenalkan kepada seluruh anggota. Praktik ini memiliki nilai strategis dalam menjaga kesinambungan identitas genealogis, yang dalam kajian antropologi dikenal sebagai kinship continuity (Fox, 1967).


Lebih dari itu, tradisi ini juga mengandung dimensi spiritual yang kuat. Tahlilan bersama menjadi medium kolektif untuk mengenang dan mendoakan para sesepuh, sekaligus memperkuat kesadaran akan akar sejarah keluarga. Dalam konteks ini, tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai mekanisme internalisasi nilai-nilai religius dan moral lintas generasi.


Pernyataan Fathor, salah satu cucu dari Bani Tia Sanidan yang juga memiliki garis keturunan dari Bujuk Ibrahimi, menegaskan pentingnya kontinuitas tradisi ini. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tahunan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan anggota keluarga baru baik melalui pernikahan maupun kelahiran serta memperbarui pemahaman kolektif tentang struktur keluarga. Ini menunjukkan bahwa tradisi tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial.

Dalam konteks yang lebih luas, tradisi pertemuan keluarga di lereng Argopuro dapat dibaca sebagai bentuk resistensi kultural terhadap fragmentasi sosial yang diakibatkan oleh urbanisasi, individualisme, dan digitalisasi. Ketika relasi sosial di banyak tempat mulai mengalami disrupsi, masyarakat Argopuro justru memperkuat kohesi sosial melalui praktik-praktik lokal yang berakar kuat pada nilai gotong royong dan kekeluargaan.

Dengan demikian, menjaga tradisi ini bukan hanya soal melestarikan kebiasaan lama, tetapi juga mempertahankan fondasi sosial yang menopang keberlanjutan komunitas. Negara dan pemangku kebijakan seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberi ruang dan dukungan terhadap praktik-praktik budaya lokal yang terbukti mampu memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

Pada akhirnya, tradisi ini mengajarkan satu hal yang kerap dilupakan dalam hiruk-pikuk modernitas: bahwa keluarga bukan sekadar hubungan biologis, tetapi juga ruang sosial tempat nilai, identitas, dan makna hidup diwariskan. Di lereng Argopuro, tradisi itu masih hidup dan dari sanalah kita belajar tentang arti pulang yang sesungguhnya.(ma/ko)

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->