
KRAKSAAN - 18 Maret 2026 Ruang seni lokal di Kabupaten Probolinggo kembali bergairah melalui gelaran pameran seni rupa bertajuk “Tiga Menguak Jalan Pulang”, yang menghadirkan karya - karya dari tiga seniman muda asal daerah tersebut. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang ekspresi artistik, tetapi juga merepresentasikan refleksi identitas, memori kolektif, dan relasi kultural antara seniman dengan tanah kelahirannya.
Diselenggarakan di Bar Kopi Linggo, Kraksaan, pameran ini berlangsung sejak 13 hingga 19 Maret 2026. Pembukaan resmi yang digelar pada Jumat malam (13/3) pukul 20.00 WIB disambut antusias oleh pegiat seni, komunitas kreatif, serta masyarakat umum yang memadati ruang pamer.
Secara konseptual, pameran ini mengusung gagasan “jalan pulang” sebagai metafora perjalanan intelektual dan artistik. Ketiga seniman yang sebelumnya aktif berkarya di Yogyakarta kembali ke Probolinggo dengan membawa perspektif baru yang lahir dari pengalaman lintas ruang dan konteks sosial.
Abdullah tampil sebagai seniman multidisipliner yang menjembatani seni rupa dengan budaya visual populer. Karyanya tidak hanya hadir dalam medium kanvas, tetapi juga merambah ilustrasi digital, desain grafis, hingga produk visual komersial yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Dwi Agustin, di sisi lain, menghadirkan praktik artistik yang berfokus pada isu diversity, equity, and inclusion (DEI). Ia menelusuri bagaimana norma sosial, relasi kuasa, dan struktur institusional membentuk pengalaman individu, khususnya perempuan muda. Karya-karyanya kerap menjadi ruang refleksi atas batas-batas sosial yang sering kali tidak disadari.
Sementara itu, M. Shodiq menghadirkan pendekatan artistik berbasis riset sosial yang kuat. Dalam salah satu sesi wawancara, ia menjelaskan bahwa karya-karyanya berangkat dari pembacaan kritis terhadap realitas kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Probolinggo dan Madura.
Ia mencontohkan salah satu karyanya yang merepresentasikan aktivitas tahlilan. Menurutnya, ide tersebut justru berangkat dari refleksi terhadap rokok yang selama ini dipahami secara negatif.
“Awalnya saya membaca peringatan pada bungkus rokok yang menyatakan bahwa rokok itu berbahaya. Namun saya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saya berpikir, di balik bahan dan praktik merokok, adakah produk budaya yang lahir darinya?” ujar Shodiq.
Dari refleksi tersebut, ia menemukan keterkaitan antara praktik merokok dan aktivitas sosial dalam tradisi tahlilan. Ia melihat adanya nilai kebersamaan yang muncul dari interaksi tersebut.
“Setelah tahlilan, orang-orang biasanya merokok bersama, berbagi cerita, dan membangun relasi sosial. Itu yang kemudian saya angkat sebagai bagian dari karya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Shodiq juga mengungkapkan pendekatan dekonstruktif yang ia gunakan dalam karyanya, termasuk memodifikasi narasi peringatan rokok menjadi lebih reflektif dan paradoksal.
“Kalimat ‘merokok itu berbahaya’ saya plesetkan menjadi sesuatu yang lebih kontemplatif. Bagi saya, ada sisi lain yang juga bisa dilihat, seperti kontribusi ekonomi melalui pajak, serta keterkaitannya dengan praktik budaya. Di situlah muncul keindahan dari kontradiksi,” tambahnya.
Selain itu, ia juga memaparkan karya berjudul “Overload Identitas” yang mengangkat kompleksitas identitas dalam kehidupan sosial kontemporer. Dalam karyanya, identitas direpresentasikan melalui simbol pakaian yang bertumpuk di atas sebuah perahu.
“Identitas sering kali kita baca dari apa yang dikenakan. Tapi ketika identitas itu terlalu banyak dan menumpuk, ada potensi konflik atau kepentingan yang saling bertabrakan,” ungkapnya.
Perahu dalam karya tersebut dimaknai sebagai ruang yang menampung berbagai identitas, sementara laut menjadi simbol keterhubungan antarwilayah dan antarbudaya.
“Laut bagi saya adalah penghubung. Di setiap daratan ada identitas yang berbeda, dan ketika dipertemukan, muncul dinamika yang cair sekaligus rentan,” paparnya.
Melalui karya-karyanya, Shodiq menegaskan bahwa seni bukan sekadar representasi visual, tetapi juga ruang dialog yang membuka kemungkinan tafsir baru terhadap realitas sosial.
“Pada akhirnya, karya ini adalah ruang dialog. Saya hanya memantik, selebihnya biar penikmat yang menafsirkan,” pungkasnya.
Pameran “Tiga Menguak Jalan Pulang” menjadi bukti bahwa seni rupa di daerah memiliki daya hidup yang kuat dan relevan secara global. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa narasi lokal dapat menjadi medium penting dalam membaca isu-isu sosial yang lebih luas.
Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk lebih dekat dengan seni, sekaligus memberikan dukungan terhadap karya-karya putra-putri daerah yang terus berkembang dan membawa nama Probolinggo ke kancah yang lebih luas.(ma/ko)