-->

Notification

×

Lesbumi PCNU Kraksaan Rumuskan Arah Dakwah Budaya, Dr. Abu Hasan Agus Soroti Tiga Tipologi Seni

Sabtu, 16 Mei 2026 | Mei 16, 2026 WIB | Last Updated 2026-05-16T12:15:41Z
KRAKSAAN- Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia menggelar Lokakarya Manajemen Organisasi Seni Budaya di Aula PCNU Kraksaan, Sabtu (16/5/2026) siang. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis bagi para pegiat budaya Nahdliyin untuk memperkuat arah gerakan seni dan kebudayaan Islam Nusantara di tengah tantangan modernisasi dan arus industri budaya.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Abu Hasan Agus R. memaparkan materi bertajuk Manajemen Organisasi Lesbumi NU. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pemahaman ideologis dan filosofis dalam mengelola seni sebagai instrumen dakwah.

Salah satu pembahasan utama dalam lokakarya tersebut adalah pemetaan tiga tipologi seni yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, pemahaman terhadap tipologi tersebut penting agar kader Lesbumi memiliki arah yang jelas dalam menempatkan kesenian sebagai media perjuangan budaya dan dakwah.

“Tiga tipologi seni ini harus dipahami secara utuh agar Lesbumi tidak kehilangan identitas dan orientasi gerak,” ujarnya di hadapan peserta lokakarya.

Dr. Abu Hasan menjelaskan, tipologi pertama adalah seni profan, yakni kesenian yang lebih menitikberatkan pada aspek estetika duniawi dan cenderung melepaskan diri dari dimensi moral maupun spiritual.

Kedua, seni populer yang bergerak dalam logika industri dan pasar. Menurutnya, seni jenis ini banyak dipengaruhi tren viral, kepentingan komersial, serta kapitalisasi industri hiburan.

Sementara tipologi ketiga, yakni seni spiritual-kultural, disebut sebagai ruh utama gerakan Lesbumi. Seni dalam konteks ini diposisikan sebagai medium dakwah yang membumi, sarana merawat tradisi lokal, sekaligus instrumen pembentukan karakter dan penyucian jiwa.

“Seni bagi Lesbumi tidak boleh sekadar menjadi tontonan yang menghibur. Ia harus menjadi tuntunan yang membentuk keadaban publik dan memperhalus budi pekerti masyarakat,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, akademisi tersebut juga menyinggung sejarah berdirinya Lesbumi pada 28 Maret 1962. Menurutnya, organisasi itu lahir sebagai respons atas tarik-menarik ideologi kebudayaan pada masa itu, antara kelompok Lekra dengan gagasan “politik adalah panglima” dan Manikebu yang mengusung konsep “seni untuk seni”.

“Lesbumi memilih jalan humanisme religius, yakni seni yang tetap memikul tanggung jawab kemanusiaan dan spiritualitas secara bersamaan,” imbuhnya.

Ia menilai, keberadaan Lesbumi saat ini memiliki peran penting dalam menjaga tradisi lokal dari ancaman puritanisme yang mudah membid’ahkan budaya, maupun arus kapitalisasi industri yang mengikis nilai sakral kesenian Nusantara.

Sebagai langkah implementasi, Dr. Abu Hasan Agus mendorong pengurus Lesbumi menerjemahkan gagasan tersebut melalui konsep Saptawikrama atau tujuh strategi kebudayaan. Program yang dirancang di antaranya sensus seniman Nahdliyin, pembentukan kelas sastra dan seni sufistik di pesantren, hingga digitalisasi manuskrip dan teater tradisi yang mulai tergerus zaman.

Di akhir sesi, ia menekankan pentingnya perubahan pola tata kelola organisasi dari pendekatan berbasis kegiatan musiman menuju penguatan ekosistem kebudayaan yang mandiri, berkelanjutan, dan kolaboratif.
×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->