-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Keluarga Pertanyakan Jeda Penanganan Pauzi, RSUD Waluyo Jati Lakukan Telaah

Senin, 14 September 2026 | September 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-14T08:57:22Z
PROBOLINGGO, Portalprobolinggo.com – Meninggalnya Pauzi (52), warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, setelah menjalani perawatan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan menyisakan sejumlah pertanyaan dari pihak keluarga terkait rangkaian penanganan medis sejak pasien tiba di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia.

Pauzi merupakan korban kecelakaan yang dibawa ke RSUD Waluyo Jati pada Selasa (8/9/2026) malam. Setelah menjalani pemeriksaan, perawatan, operasi hingga penanganan intensif di ICU, kondisinya memburuk dan dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026) malam.

Pihak keluarga mempertanyakan jeda waktu antartindakan, kepastian pemeriksaan dokter spesialis, komunikasi mengenai perkembangan kondisi pasien, hingga kapan cedera pada bagian dada yang kemudian membutuhkan pemasangan Water Seal Drainage (WSD) diketahui.

Sabri (46), salah seorang anggota keluarga Pauzi, mengatakan pasien dibawa ke rumah sakit pada Selasa malam setelah mengalami kecelakaan.

Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Pauzi menjalani sejumlah pemeriksaan, termasuk CT scan.

Menurut versi keluarga, mereka saat itu mendapat informasi bahwa pemeriksaan kepala tidak menunjukkan adanya perdarahan atau bercak darah pada otak dan pasien disebut mengalami gegar otak ringan.

Keterangan tersebut merupakan penuturan keluarga. Pihak RSUD Waluyo Jati dalam klarifikasi resminya belum memaparkan secara spesifik kepada publik kesimpulan hasil CT scan kepala pasien.

Keluarga Pertanyakan Waktu Operasi

Menurut Sabri, keluarga kemudian mendapat informasi bahwa Pauzi akan ditangani sejumlah dokter spesialis.

Namun, keluarga mengaku belum segera memperoleh kepastian mengenai waktu pelaksanaan operasi.

Pauzi kemudian dipindahkan dari IGD ke Ruang Cempaka pada Rabu (9/9/2026).

Selama berada di ruang perawatan tersebut, keluarga mengaku beberapa kali meminta kepastian mengenai pemeriksaan dokter maupun jadwal tindakan.

Menurut Sabri, kepastian mengenai operasi baru diperoleh pada Kamis (10/9/2026) pagi setelah salah seorang dokter menemui keluarga. Operasi kemudian dilakukan pada Kamis malam.

Keluarga memperkirakan terdapat jeda lebih dari 30 jam sejak pasien datang hingga memperoleh kepastian tindakan operasi.

Namun, perhitungan waktu tersebut merupakan versi keluarga dan masih membutuhkan penjelasan medis secara kronologis dari rumah sakit mengenai kondisi pasien pada setiap tahapan serta alasan penentuan waktu tindakan.

Keluarga juga mempertanyakan sebuah luka yang menurut mereka sejak awal membutuhkan penanganan. Sabri menyebut keluarga mendapatkan informasi bahwa penjahitan luka akan dilakukan bersamaan dengan operasi.

Belum terdapat penjelasan spesifik mengenai luka yang dimaksud maupun pertimbangan medis mengenai waktu penanganannya.

Cedera Dada Menjadi Sorotan Keluarga

Setelah menjalani operasi, Pauzi dipindahkan ke ICU.

Pada fase tersebut, keluarga mengaku mendapatkan informasi mengenai kondisi lain pada bagian dada.

Menurut keterangan keluarga, terdapat patah tulang rusuk yang berkaitan dengan cedera pada paru-paru serta perdarahan di rongga dada sehingga diperlukan pemasangan WSD.

Keluarga mempertanyakan kapan kondisi tersebut pertama kali diketahui dan apakah temuan itu telah teridentifikasi sejak pemeriksaan awal.

Keluarga juga mengaku sempat meminta agar Pauzi dirujuk ke rumah sakit lain.

Namun, menurut Sabri, saat itu keluarga mendapatkan penjelasan bahwa pasien masih dapat ditangani di RSUD Waluyo Jati.

Kondisi Pauzi kemudian memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu malam.

Direktur RSUD: Pasien Tidak Ditelantarkan

Menanggapi informasi yang beredar, Direktur RSUD Waluyo Jati, Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG., Subsp. Obginsos., M.H., M.Kes., menyampaikan klarifikasi resmi tertanggal 13 September 2026.

Manajemen rumah sakit terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pasien.

“Perlu kami tegaskan bahwa pasien tidak ditelantarkan,” demikian pernyataan resmi Direktur RSUD Waluyo Jati.

Menurut rumah sakit, Pauzi datang pada 8 September 2026 sekitar pukul 19.50 WIB dalam kondisi cedera berat disertai penurunan kesadaran.

Berdasarkan pemeriksaan, rumah sakit menyatakan ditemukan sejumlah trauma, termasuk patah tulang rusuk dan perdarahan di rongga dada.

RSUD Waluyo Jati menyebut pasien telah memperoleh sejumlah pemeriksaan dan tindakan, meliputi CT scan, rontgen, USG, pemeriksaan laboratorium, transfusi darah, pemasangan WSD untuk menangani perdarahan di rongga dada, operasi, serta pemasangan implan pada tulang tangan dan kaki.

Penanganan disebut dilakukan secara multidisiplin oleh empat bidang dokter spesialis, yakni Bedah Umum, Bedah Saraf, Orthopedi dan Traumatologi, serta Anestesiologi.

RSUD Sebut Berupaya Mencari Rujukan

Dalam klarifikasinya, rumah sakit juga menjelaskan bahwa cedera pada bagian dada membutuhkan kompetensi Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular.

Atas dasar itu, tim medis disebut telah berupaya mencari rumah sakit rujukan di Malang, Surabaya, dan Jember.

Namun, menurut RSUD Waluyo Jati, rumah sakit yang dihubungi saat itu belum dapat menerima pasien karena kapasitas pelayanan penuh.

“Dengan mempertimbangkan kondisi pasien yang memerlukan pertolongan segera, tim dokter RSUD Waluyo Jati mengambil langkah penyelamatan dan melakukan tindakan medis sesuai indikasi, kompetensi, kemampuan fasilitas, serta kondisi klinis pasien,” tulis pihak rumah sakit.

Setelah menjalani operasi, Pauzi dipindahkan ke ICU untuk mendapatkan perawatan, pemantauan, dan evaluasi intensif.

Meski berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien kemudian memburuk dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Rumah Sakit Singgung Keluarga Masuk Kamar Operasi

Dalam klarifikasi yang sama, pihak RSUD Waluyo Jati juga menyinggung adanya anggota keluarga yang disebut memasuki kamar operasi ketika tindakan medis terhadap pasien lain sedang berlangsung.

Rumah sakit menyatakan peristiwa tersebut telah didokumentasikan dan dievaluasi.

Menurut manajemen, kamar operasi merupakan area terbatas dan steril yang harus dijaga karena berkaitan dengan keselamatan pasien, pengendalian infeksi, serta kelancaran tindakan medis.

Pihak RSUD juga menyebut terdapat ancaman untuk memviralkan kejadian tersebut.

Keterangan mengenai peristiwa itu merupakan versi rumah sakit. Redaksi masih berupaya memperoleh tanggapan keluarga mengenai bagian tersebut agar informasi dapat disajikan secara berimbang.

Sejumlah Pertanyaan Masih Terbuka

Klarifikasi rumah sakit telah menjawab sejumlah hal penting, mulai waktu kedatangan pasien, kondisi cedera berat, pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan, keterlibatan dokter spesialis, upaya pencarian rumah sakit rujukan, hingga perawatan di ICU.

Namun, terdapat sejumlah bagian dalam kronologi yang masih belum dijelaskan secara spesifik.

Di antaranya, kesimpulan terperinci pemeriksaan CT scan kepala, waktu pertama kali cedera dada diketahui, kapan keputusan pemasangan WSD dibuat, serta kapan masing-masing dokter spesialis melakukan evaluasi terhadap pasien.

Keterangan resmi juga belum memaparkan secara terperinci kapan rencana operasi ditetapkan, alasan medis terkait waktu pelaksanaan operasi, maupun kondisi klinis pasien selama berada di Ruang Cempaka.

Demikian pula mengenai proses rujukan.

Rumah sakit menyatakan sejak awal telah berupaya mencari rumah sakit rujukan di Malang, Surabaya dan Jember. Namun, belum dijelaskan secara spesifik kapan setiap rumah sakit dihubungi, pada tahap kondisi pasien seperti apa upaya rujukan dilakukan, serta bagaimana komunikasi mengenai proses tersebut disampaikan kepada keluarga.

Hal-hal tersebut penting untuk menjelaskan perbedaan antara keterangan keluarga dan rumah sakit, tetapi tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyimpulkan telah terjadi kelalaian ataupun penelantaran sebelum proses evaluasi selesai.

Komite Medik Lakukan Telaah Menyeluruh

RSUD Waluyo Jati menyatakan telah menugaskan Komite Medik untuk melakukan telaah menyeluruh terhadap kronologi pelayanan dan rekam medis pasien.

Rumah sakit juga menyatakan menghormati hak keluarga untuk memperoleh informasi mengenai pelayanan yang diberikan, dengan tetap berkewajiban menjaga kerahasiaan medis dan kehormatan pasien.

Manajemen meminta masyarakat dan media tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pasien ditelantarkan sebelum proses verifikasi selesai.

RSUD Waluyo Jati menyatakan akan melakukan evaluasi serta tindak lanjut apabila dari hasil telaah ditemukan aspek pelayanan yang perlu diperbaiki.

Dengan adanya dua keterangan berbeda, perkara meninggalnya Pauzi kini tidak hanya menyangkut perdebatan mengenai istilah “ditelantarkan” atau “tidak ditelantarkan”.

Titik pentingnya adalah memastikan kronologi pelayanan dapat dijelaskan secara terang: kapan pasien diperiksa, apa hasil pemeriksaannya, kapan kondisi tertentu diketahui, kapan keputusan medis dibuat, apa alasan setiap tindakan, bagaimana proses rujukan dilakukan, serta bagaimana komunikasi antara rumah sakit dan keluarga berlangsung.

Hingga hasil telaah Komite Medik selesai, belum dapat disimpulkan apakah terdapat keterlambatan, persoalan komunikasi, ataupun masalah lain dalam rangkaian pelayanan medis terhadap Pauzi.

Redaksi akan terus berupaya memperoleh keterangan lanjutan dari keluarga maupun RSUD Waluyo Jati untuk melengkapi kronologi secara berimbang.
×
Berita Terbaru Update