PROBOLINGGO, Portalprobolinggo.com – Bupati Probolinggo Mohammad Haris atau Gus Haris melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Senin (14/9/2026), menyusul sorotan publik terkait penanganan Pauzi (52), warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, yang meninggal dunia setelah empat hari menjalani perawatan akibat kecelakaan lalu lintas.
Dalam kunjungannya, Gus Haris mengecek langsung Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta meminta keterangan dari tenaga medis yang terlibat dalam penanganan pasien.
Ia juga menginstruksikan dilakukan audit internal secara menyeluruh untuk mencocokkan kronologi versi keluarga dengan catatan pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit.
Langkah tersebut, menurut Gus Haris, penting untuk mengetahui secara objektif apa yang sebenarnya terjadi sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah.
“Apa pun yang viral dan dikeluhkan masyarakat harus kita kaji secara mendalam. Kita harus memastikan apakah memang ada kelemahan pelayanan, persoalan dengan tenaga medis, SOP yang tidak berjalan dengan benar, atau ada hal-hal lain,” kata Gus Haris seusai melakukan penelusuran di RSUD Waluyo Jati.
Keluarga Pertanyakan Jeda Penanganan
Pauzi masuk RSUD Waluyo Jati pada Selasa (8/9/2026) malam setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.
Menurut keterangan keluarga, Pauzi menjalani pemeriksaan awal di IGD, termasuk CT scan.
Sabri (46), salah seorang anggota keluarga, menyebut pihaknya saat itu memperoleh penjelasan bahwa kondisi kepala Pauzi tidak menunjukkan perdarahan dan disebut mengalami gegar otak ringan.
Keterangan tersebut merupakan versi keluarga. Pihak rumah sakit belum memaparkan secara terperinci kepada publik mengenai kesimpulan hasil CT scan kepala pasien.
Sabri juga menyebut keluarga mempertanyakan kepastian tindakan dokter spesialis setelah Pauzi dipindahkan ke Ruang Cempaka.
Menurut keluarga, terdapat jeda lebih dari 30 jam sejak pasien tiba hingga memperoleh kepastian tindakan operasi.
Keluarga juga mempertanyakan penanganan luka yang menurut mereka sempat direncanakan dilakukan bersamaan dengan operasi patah tulang.
Pauzi kemudian menjalani operasi pada Kamis (10/9/2026) malam dan selanjutnya mendapatkan perawatan intensif di ICU.
Pada fase tersebut, keluarga mengaku memperoleh penjelasan mengenai adanya patah tulang rusuk, cedera pada bagian dada, serta perdarahan di rongga dada yang membutuhkan pemasangan Water Seal Drainage (WSD).
Keluarga mempertanyakan kapan kondisi tersebut pertama kali diketahui serta bagaimana informasi mengenai perkembangan kondisi pasien disampaikan.
Sabri juga mengaku keluarga sempat meminta agar Pauzi dirujuk ke rumah sakit lain.
Namun, menurut versinya, permintaan tersebut belum dapat direalisasikan saat itu.
Kondisi Pauzi kemudian memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026) malam.
Gus Haris: Jangan Terburu-buru Menentukan Kesalahan
Gus Haris mengatakan dirinya telah menghubungi pihak keluarga sebelum datang ke RSUD Waluyo Jati.
Ia kemudian mencocokkan keterangan keluarga dengan penjelasan dokter, perawat, serta pihak manajemen rumah sakit.
“Saya sudah telepon pihak keluarga untuk menanyakan kronologinya seperti apa. Kemudian di sini saya ingin memastikan bagaimana pasien datang, kondisinya bagaimana, ditangani seperti apa, SOP-nya seperti apa, sampai empat hari kemudian meninggal dunia itu bagaimana ceritanya,” ujarnya.
Meski telah memperoleh sejumlah penjelasan, Gus Haris menegaskan belum akan mengambil kesimpulan mengenai ada atau tidaknya kesalahan dalam pelayanan.
Menurut dia, sementara ini terdapat perbedaan interpretasi antara pihak keluarga dan rumah sakit.
“Saya tidak akan memutuskan apa pun sekarang karena ini bisa fatal. Kalau kemudian dokter yang sebenarnya tidak bersalah saya nyatakan bersalah karena saya ceroboh mengambil keputusan, itu juga fatal,” katanya.
Karena itu, ia meminta audit dilakukan secara menyeluruh sebelum pemerintah daerah menentukan langkah berikutnya.
Buka Kemungkinan Evaluasi Besar
Gus Haris mengatakan hasil audit nantinya dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi sistem pelayanan maupun manajemen rumah sakit.
Ia bahkan membuka kemungkinan dilakukan perubahan apabila ditemukan aspek yang memang perlu dibenahi.
“Semuanya mungkin. Semuanya sangat mungkin dilakukan,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan perubahan struktur saja tidak cukup apabila kualitas pelayanan tidak ikut diperbaiki.
“Intinya saya ingin evaluasi besar. Pelayanan diperbaiki. Kasus ini harus menjadi titik tolak supaya pelayanan ke depan semakin baik dan kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.
Bupati juga mengingatkan bahwa RSUD Waluyo Jati merupakan rumah sakit milik pemerintah yang orientasi utamanya adalah pelayanan kepada masyarakat.
Menurut dia, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit akan sulit dipulihkan apabila keluhan tidak ditangani secara terbuka dan serius.
Direktur RSUD: Audit Internal Ditargetkan Tiga Hari
Direktur RSUD Waluyo Jati, dr. Yessi Rahmawati, mengatakan audit internal terhadap rangkaian pelayanan Pauzi tengah berjalan.
Hasil audit tersebut ditargetkan dapat diperoleh dalam waktu sekitar tiga hari.
“Ini sedang berproses, sedang kita kaji. Mudah-mudahan tiga hari lagi sudah selesai,” kata Yessi.
Ia mengatakan rumah sakit tidak menutup diri terhadap kritik maupun keluhan masyarakat.
Menurut dia, aspek komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien dan keluarga juga menjadi bagian yang perlu dievaluasi.
“Mungkin komunikasi memang harus kita perbaiki. Kami dari rumah sakit akan melakukan audit semaksimal mungkin dan sebaik mungkin,” ujarnya.
RSUD Sebut Enam Rumah Sakit Rujukan Penuh
Terkait proses rujukan, Yessi mengatakan pihak rumah sakit telah berupaya mencari fasilitas kesehatan yang dapat menerima Pauzi.
Menurut dia, sedikitnya enam rumah sakit telah dihubungi, tetapi seluruhnya saat itu tidak dapat menerima pasien karena kapasitas pelayanan penuh.
Pauzi disebut mengalami trauma dada dan perdarahan di rongga dada yang membutuhkan kompetensi dokter spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV).
Kompetensi tersebut belum tersedia di RSUD Waluyo Jati.
“Memang pada kasus ini ada satu spesialis yang kita butuhkan karena ada trauma dada dan perdarahan di daerah paru. Itu membutuhkan BTKV, sementara kami belum punya,” ujar Yessi.
Pihak rumah sakit sebelumnya juga menyatakan Pauzi telah mendapatkan sejumlah tindakan medis sejak pertama datang, antara lain pemeriksaan, penanganan luka, operasi, pemasangan implan pada tulang, hingga pemasangan WSD.
Satu Dokter Sementara Dihentikan dari Pelayanan
Dalam wawancara setelah audit, Yessi juga mengatakan salah seorang dokter yang disebut dalam keluhan keluarga untuk sementara dihentikan dari pelayanan sampai proses evaluasi selesai.
“Untuk dokter yang disebut oleh pihak keluarga, sementara saya off-kan, saya hentikan layanannya sampai nanti kita evaluasi bersama,” katanya.
Langkah tersebut bersifat sementara selama proses evaluasi dan tidak dapat dimaknai sebagai kesimpulan bahwa dokter tersebut telah melakukan kesalahan.
Sementara mengenai keluhan terhadap perawat, pihak rumah sakit mengaku masih perlu mengidentifikasi petugas yang dimaksud.
Yessi mengatakan setiap keluhan yang disampaikan secara jelas akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.
RSUD Siap Hadapi Jalur Hukum
Terkait kemungkinan keluarga menempuh jalur hukum, manajemen RSUD Waluyo Jati menyatakan siap mengikuti prosedur yang berlaku.
Namun, pihak rumah sakit berharap komunikasi dan mediasi dengan keluarga tetap dapat dilakukan.
“Kita harus siap dalam kondisi apa pun, tetapi mediasi jauh lebih baik,” kata Yessi.
Ia menyebut pihak rumah sakit telah melakukan komunikasi dengan keluarga dan merencanakan pertemuan untuk memberikan penjelasan mengenai rangkaian pelayanan.
Yessi juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Pauzi serta permohonan maaf apabila terdapat aspek pelayanan yang dirasakan kurang baik oleh keluarga.
“Kami dari rumah sakit turut berbelasungkawa. Mohon maaf jika ada hal-hal dalam layanan kami yang kurang baik. Tentunya kami harus memperbaiki,” ujarnya.
Hingga audit selesai, Pemerintah Kabupaten Probolinggo maupun RSUD Waluyo Jati belum menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran dalam rangkaian pelayanan terhadap Pauzi.
Hasil audit nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan evaluasi dan langkah lanjutan terhadap pelayanan di RSUD Waluyo Jati.