
KOTA ANYAR - Bencana tanah longsor dan banjir lumpur melanda sejumlah dusun di Desa Tambak Ukir, Kabupaten Probolinggo. Dampaknya meluas di beberapa titik, mengakibatkan rumah roboh, jalan ambles, serta jembatan terendam banjir sehingga akses warga terputus.
Di Dusun Krajan RT 01, dua rumah roboh akibat tertimpa longsor. Di Dusun Krajan RT 03, satu rumah ambruk setelah digerus banjir. Sementara di Dusun Krajan RT 04, empat rumah terdampak lumpur longsor, tiga di antaranya mengalami kerusakan berat. Jembatan penghubung di wilayah tersebut terendam banjir dan membuat sembilan kepala keluarga tidak dapat melintas.
Di Dusun Tegalan RT 05, tiga rumah terdampak banjir lumpur dan jalan sisi selatan pemukiman warga ambles total. Di Dusun Kayudara RT 08, satu rumah tertimbun longsor. Sedangkan di Dusun Alas Kembang RT 07, jalan desa longsor dan tertutup material tanah sehingga membahayakan pengguna jalan. Di lokasi yang sama, dapur salah satu warga tergerus air dan berada dalam kondisi rawan runtuh.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah rumah tidak dapat dihuni sementara waktu. Warga memilih mengungsi ke masjid terdekat demi keselamatan.
Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Fraksi PDI Perjuangan, Fikri Syafi’i, hadir langsung pada Sabtu malam, 21 Februari 2026. Ia meninjau titik-titik terdampak dan bermalam bersama warga. Menjelang subuh, Fikri terlihat sahur bersama masyarakat yang mengungsi, mendengarkan cerita mereka tentang ketakutan setiap kali hujan turun.
“Mitigasi bencana harus menjadi pembahasan serius semua elemen di Kabupaten Probolinggo. Kalau dulu hujan selalu ditunggu, sekarang hujan turun justru membawa kecemasan,” ujarnya di sela kebersamaan tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan perubahan situasi ekologis dan sosial di wilayah perbukitan. Curah hujan yang tinggi kini identik dengan ancaman longsor dan banjir lumpur. Fikri menilai persoalan ini tidak bisa disikapi secara reaktif semata, melainkan membutuhkan langkah antisipatif, mulai dari penguatan infrastruktur, tata kelola lingkungan, hingga perencanaan mitigasi berbasis risiko.
Kehadiran dan kebersamaan dengan warga di tengah situasi darurat menjadi simbol empati sekaligus pengingat bahwa persoalan bencana bukan sekadar data kerusakan, melainkan tentang rasa aman masyarakat yang harus dijaga. Desa Tambak Ukir kini menanti langkah konkret agar kecemasan setiap musim hujan tidak terus berulang.(IN)