KRAKSAAN - Kericuhan yang terjadi di Kantor DPRD Kabupaten Probolinggo, Rabu (25/2/2026), diduga dipicu emosi sejumlah pemuda yang merasa dirugikan dalam praktik penagihan kendaraan. Peristiwa tersebut berlangsung usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I terkait dugaan praktik penagihan oleh pihak debt collector yang dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan hukum.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sekelompok pemuda yang berada di depan gerbang kantor DPRD tiba-tiba merangsek masuk ke area gedung. Dengan nada tinggi dan penuh amarah, mereka berteriak mencari seorang oknum debt collector berinisial SH.
“Mana SH? Mana SH? Saya habis Rp4 juta nebus motor ke SH itu!” teriak salah satu pemuda dalam bahasa Madura.
Mereka mengira oknum yang dimaksud berada di dalam ruangan RDP. Beberapa di antaranya terlihat sempoyongan dan diduga berada di bawah pengaruh minuman keras. Aparat keamanan yang berjaga langsung berupaya menghalau dan menenangkan situasi agar tidak berkembang menjadi bentrokan.
Dalam insiden tersebut, seorang wartawan yang tengah mengambil gambar untuk kepentingan peliputan dilaporkan sempat mendapat tindakan kekerasan. Wartawan tersebut diduga dipukul oleh salah satu pemuda ketika mencoba merekam suasana kericuhan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait kondisi korban maupun laporan hukum lanjutan atas dugaan penganiayaan tersebut.
Sebelumnya, RDP yang digelar Komisi I DPRD Kabupaten Probolinggo merupakan tindak lanjut atas surat permohonan Laskar Jago Probolinggo terkait dugaan praktik penagihan yang tidak sesuai ketentuan hukum. Agenda resmi tersebut tercatat dalam Surat Nomor 167/II/2026 tertanggal 24 Februari 2026 .
Koordinator Laskar Jago Probolinggo, Rudi, menegaskan bahwa kelompok pemuda yang melakukan aksi tersebut bukan bagian dari organisasinya.
“Kami tidak tahu aksi itu dan mereka bukan dari Laskar Jago Probolinggo. RDP sudah selesai secara tertib. Kami menempuh jalur konstitusional,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena terjadi di lingkungan lembaga legislatif yang semestinya menjadi ruang dialog yang aman. Aparat kepolisian masih melakukan penelusuran terkait identitas dan motif para pemuda yang terlibat, termasuk dugaan tindak kekerasan terhadap jurnalis.
Hingga sore hari, situasi di Kantor DPRD Kabupaten Probolinggo dilaporkan telah kembali kondusif dengan pengamanan diperketat.(ma/ko)