-->

Notification

×

EDITORIAL | Merawat Tradisi Lebaran di Kaki Gunung Argopuro: Antara Kesederhanaan, Solidaritas, dan Ketahanan Sosial

Senin, 23 Maret 2026 | Maret 23, 2026 WIB | Last Updated 2026-03-23T08:08:02Z

Lebaran di kaki Gunung Argopuro bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan sebuah praktik sosial yang merepresentasikan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi arus modernisasi. Di sejumlah desa di Kecamatan Krucil dan Tiris, Kabupaten Probolinggo, tradisi Lebaran tidak dibangun atas kemewahan, tetapi atas solidaritas, kolektivitas, dan kesadaran komunal yang telah diwariskan lintas generasi. Dalam konteks ini, Lebaran tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang reproduksi nilai-nilai sosial yang memperkuat kohesi masyarakat pedesaan.

Secara sosiologis, persiapan Lebaran di wilayah ini dimulai sejak awal Ramadan, yang ditandai dengan praktik menabung kolektif. Warga secara sadar mengalokasikan sebagian penghasilan mereka untuk kebutuhan hari raya, baik untuk membeli kue maupun untuk berpartisipasi dalam tradisi patungan membeli sapi. Praktik ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar mengonsumsi Lebaran sebagai perayaan, tetapi juga mengonstruksinya sebagai hasil kerja bersama. Dalam perspektif ekonomi moral (Scott, 1976), tindakan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan solidaritas sosial.

Salah satu simbol paling kuat dari tradisi tersebut adalah kehadiran kue sagon di setiap rumah. Sagon bukan sekadar panganan, tetapi juga penanda identitas budaya. Ia hadir di setiap meja, tidak selalu untuk dikonsumsi, tetapi sebagai simbol keberlimpahan dan kesiapan menyambut tamu. Ketahanannya yang mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan sampai Iduladha menjadi metafora dari daya tahan tradisi itu sendiri. Dalam kerangka antropologi budaya, makanan seperti sagon berfungsi sebagai “cultural artifact” yang menyimpan makna simbolik dan historis (Mintz & Du Bois, 2002).

Lebih jauh, praktik patungan daging sapi menjelang Lebaran memperlihatkan bentuk konkret dari gotong royong yang masih hidup di masyarakat. Warga secara kolektif membeli satu ekor sapi, menyembelihnya sehari sebelum Lebaran, dan membagikan daging secara merata. Selain bertujuan ekonomis menghindari lonjakan harga daging praktik ini juga memperkuat relasi sosial antarwarga. Dalam perspektif teori solidaritas Émile Durkheim (1893), tradisi ini mencerminkan solidaritas mekanik, di mana kesamaan nilai dan praktik menjadi perekat utama kehidupan sosial.

Tidak kalah penting adalah tradisi “bibibi” yang dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadan. Tradisi ini berupa saling berbagi makanan antar tetangga, yang pada praktiknya menyerupai sistem pertukaran sosial berbasis kepercayaan. Dalam kajian Marcel Mauss (1925) tentang “The Gift”, praktik ini dapat dipahami sebagai bentuk pertukaran yang tidak semata-mata bersifat ekonomis, tetapi juga simbolik mengandung kewajiban moral untuk memberi, menerima, dan membalas. Dengan demikian, bibibi menjadi mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan relasi antarindividu dalam komunitas.

Menariknya, masyarakat di kaki Gunung Argopuro tidak mengenal konsep “open house” dalam pengertian modern. Namun, rumah-rumah mereka terbuka selama 24 jam, menandakan bentuk keterbukaan yang lebih autentik. Tradisi silaturahmi dilakukan dengan membawa beras, mie, gula, atau bahan pokok lainnya. Praktik ini mengalami transformasi historis: jika pada era 2000-an masyarakat masih berjalan kaki sambil membawa “tenung” berisi nasi matang, kini mereka lebih memilih membawa bahan mentah yang lebih praktis. Transformasi ini menunjukkan adanya adaptasi budaya tanpa kehilangan esensi nilai.

Pernyataan warga seperti Mahfud dan Hanifa mengindikasikan adanya kesadaran kolektif untuk menjaga tradisi tersebut. Hanifa, misalnya, menegaskan bahwa membawa sembako saat bersilaturahmi bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari mekanisme sosial yang menjaga keberlangsungan hubungan kekerabatan. Tanpa praktik tersebut, silaturahmi berpotensi mengalami erosi karena hilangnya “nilai timbal balik” yang selama ini menjadi fondasi interaksi sosial.

Lebih jauh, praktik saling berbalas sembako yang dapat berlangsung hingga satu bulan penuh setelah Lebaran menunjukkan bahwa perayaan ini tidak bersifat temporer, melainkan berkelanjutan. Hal ini memperkuat argumen bahwa Lebaran di wilayah ini adalah sebuah “extended social ritual” yang memperpanjang makna kebersamaan dan memperdalam relasi sosial (Turner, 1969).

Namun, di balik kehangatan tradisi tersebut, terdapat realitas ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Banyak warga yang secara ekonomi tergolong sederhana, bahkan miskin. Meski demikian, mereka rela menjual ternak sapi, kambing, atau aset lainnya demi menyambut Lebaran. Fenomena ini dapat dibaca secara ambivalen: di satu sisi menunjukkan tingginya nilai Lebaran dalam struktur budaya masyarakat; di sisi lain, menimbulkan pertanyaan kritis tentang tekanan sosial dan ekspektasi kolektif yang mungkin membebani individu.

Dalam perspektif kritis, tradisi ini memang perlu dirawat, tetapi juga perlu direfleksikan secara kontekstual. Modernisasi tidak selalu harus menjadi ancaman, tetapi dapat menjadi ruang untuk melakukan reinterpretasi tradisi agar tetap relevan tanpa membebani. Misalnya, praktik gotong royong dan berbagi dapat dipertahankan tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi keluarga.

Pada akhirnya, Lebaran di kaki Gunung Argopuro mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari relasi sosial yang hangat dan bermakna. Tradisi sagon, patungan sapi, bibibi, hingga silaturahmi dengan membawa sembako adalah bukti bahwa nilai-nilai lokal masih mampu bertahan di tengah arus perubahan zaman. Yang menjadi tantangan ke depan bukan hanya menjaga tradisi tersebut tetap hidup, tetapi juga memastikan bahwa ia tetap relevan, inklusif, dan tidak menjadi beban bagi generasi yang akan datang.

Dalam dunia yang semakin individualistik, praktik-praktik komunal seperti ini justru menjadi oase mengingatkan bahwa esensi Lebaran sejatinya bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita bagi.(ma/ko)

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->