PAJARAKAN - Pagi itu, Minggu, 19 April 2026, halaman P5 Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong tidak sekadar menjadi titik kumpul. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara semangat spiritual, kepedulian lingkungan, dan gaya hidup modern yang semakin sadar akan kesehatan.
Ribuan peserta dari berbagai penjuru Jawa Timur memadati kawasan tersebut. Sepeda-sepeda berjajar rapi, helm dikenakan, dan semangat terpancar dari wajah-wajah yang datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi untuk menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar: menjaga bumi.
Acara Genggong Go Green ke-7 resmi dimulai.

Gerakan yang Tidak Lagi Sekadar Seremonial
Bupati Probolinggo, Muhammad Haris Damanhuri Romly, hadir langsung bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan representasi dukungan pemerintah terhadap gerakan sosial yang terus tumbuh ini.
Dalam sambutannya, Haris menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi memiliki daya refleksi yang dalam.
"Jika hari ini kita menjaga alam dengan baik, maka di masa depan alam pula yang akan menjaga kita. Karena alam ini bukan warisan dari nenek moyang kita, melainkan titipan dari anak cucu kita.”
Kalimat itu tidak hanya terdengar sebagai retorika. Ia terasa relevan di tengah realitas perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan gaya hidup modern yang seringkali menjauh dari harmoni dengan alam.
Di Genggong, pesan itu diterjemahkan menjadi aksi.
Ada penanaman pohon. Ada gerakan bersih lingkungan. Dan yang paling terlihat, ada ribuan orang yang memilih mengayuh sepeda sebuah simbol kecil dari perubahan besar.

Dari Pesantren, Lahir Gerakan Hijau
Bagi Ketua Panitia, Habib Mahdi, S.E., yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Genggong Go Green bukan sekadar event tahunan. Ia adalah gerakan yang tumbuh dari kesadaran kolektif.
"Ini kegiatan rutin yang sudah memasuki tahun ke-7. Yang membuatnya menarik adalah karena menggabungkan kepedulian lingkungan dan kesehatan. Kita menanam pohon, bersih-bersih lingkungan, dan juga mengajak masyarakat berolahraga,” ujarnya.
Dalam pandangannya, keberhasilan acara ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi dari sejauh mana nilai yang ditanamkan mampu bertahan setelah acara usai.
"Peserta tahun ini lebih dari 2.000 orang, dari Bondowoso, Madura, dan berbagai daerah lain di Jawa Timur. Harapan kami, masyarakat bisa menjadi pionir dalam menjaga lingkungan dan tetap mencintai gaya hidup sehat,” tambahnya.
Dan memang, dari Genggong, pesan itu menyebar pelan tapi pasti.

Rute yang Menyatukan Lanskap dan Komunitas
Dari titik start di halaman P5 Genggong, peserta dilepas menuju berbagai jalur. Ada yang memilih jalur santai fun bike, ada yang menantang diri di jalur mountain bike (MTB) yang bahkan melintasi sungai, dan ada pula para pembalap serius di jalur road bike.
Koordinator roadbike, Rendra Bayu atau Chiko, menjelaskan bahwa kompetisi tahun ini dirancang untuk menjangkau semua kalangan.
"Kategori lomba ada men open, woman open, men under 19, dan men master. Ini untuk mengakomodasi atlet elite, perempuan, junior, hingga pembalap senior,” jelasnya.
Namun di balik kategori dan kompetisi, ada satu prinsip yang tidak berubah.
"Dalam road bike, yang menentukan pemenang adalah kecepatan. Siapa yang paling cepat mencapai garis finis, dia yang menang,” tegas Chiko.
Lintasan kompetitif yang digunakan, dari Condong menuju Rest Area Betek, memiliki panjang sekitar 7,5 hingga 8 kilometer. Sementara total perjalanan gowes mencapai 38 hingga 40 kilometer pulang-pergi.
Sebuah jarak yang cukup untuk menguji stamina, sekaligus menikmati lanskap pedesaan Probolinggo.

Persinggahan yang Menguatkan Kebersamaan
Di tengah perjalanan, peserta tidak hanya diuji fisiknya, tetapi juga disambut dengan kehangatan khas masyarakat lokal.
Rombongan VVIP, termasuk Bupati dan Forkopimda, beristirahat di Desa Sologudig, di kediaman H. Wahid Nurohman. Sementara peserta umum singgah di Desa Brani Kulon, di rumah Ketua Panitia, Habib Mahdi.
Di sana, tidak ada menu mewah. Hanya buah-buahan sederhana: pisang, salak, dan hasil bumi lainnya.
Namun justru di situlah maknanya.
Di tengah kesederhanaan, tersimpan pesan tentang kembali ke alam, kembali ke yang alami.
Setelah beristirahat, peserta melanjutkan perjalanan kembali mengayuh, kembali menyatu dengan jalan, udara, dan semangat kebersamaan.

Lebih dari Sekadar Juara
Di garis finis, sorak sorai menyambut para peserta. Ada yang datang sebagai juara, ada yang datang sebagai penyelesai, dan ada pula yang datang hanya untuk merasakan pengalaman.
Namun di Genggong Go Green, semua pulang sebagai pemenang.
Selain hadiah bagi juara di tiap kategori, panitia juga menyiapkan doorprize yang tidak kalah menarik: sepeda hingga sepeda motor dari sponsor.
Yang membuat suasana semakin hidup, Bupati Haris turut berinteraksi langsung dengan peserta melalui kuis spontan.
Beberapa peserta yang beruntung mendapatkan hadiah sepeda ontel, helm sepeda, hingga kipas angin.
Momen itu mencairkan batas antara pemimpin dan masyarakat. Tidak ada jarak, yang ada hanya kebersamaan.

Menuju Gaya Hidup Baru
Di akhir acara, satu pesan kembali menguat.
Bahwa menjaga lingkungan tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Kadang, cukup dengan mengayuh sepeda.
"Mari kita dorong bersepeda sebagai gaya hidup. Memang tidak mudah, tetapi jika konsisten, ini akan membawa manfaat besar,” kata Bupati Haris.
Dan mungkin, dari Genggong, perubahan itu sedang dimulai.
Bukan dengan teriakan besar, tetapi dengan kayuhan-kayuhan kecil yang konsisten.
Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih hijau.(IN)