
SUKAPURA - Pandita masyarakat adat Tengger menegaskan pentingnya menjaga nilai sakral dan kearifan lokal dalam penataan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penegasan tersebut mengemuka dalam kegiatan peletakan batu pertama Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT), Senin, 13 April 2026, di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger, Romo Sutomo, menyatakan bahwa masyarakat adat pada prinsipnya mendukung program penataan, selama tidak mengabaikan nilai budaya yang telah dijaga secara turun-temurun.
"Masyarakat adat Tengger pada prinsipnya mendukung program penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) selama tetap menghormati nilai-nilai adat dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Romo Sutomo.
Ia menegaskan bahwa kawasan Bromo tidak semata destinasi wisata, melainkan wilayah yang memiliki dimensi spiritual bagi masyarakat Tengger.
"Kawasan Bromo merupakan wilayah sakral bagi masyarakat Tengger, sehingga setiap pembangunan harus memperhatikan aspek spiritual, budaya, dan keseimbangan alam,” katanya.
Romo Sutomo juga menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam setiap tahapan pembangunan.
"Pentingnya komunikasi dan keterlibatan aktif masyarakat adat dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Kami berharap pembangunan ini tidak hanya berorientasi pada kepentingan pariwisata, namun juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal tanpa menghilangkan identitas budaya mereka,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya sebagai fondasi keberlanjutan kawasan.
"Kami mengajak seluruh pihak untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya sebagai kunci keberlanjutan kawasan Bromo,” kata Romo Sutomo.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, kepala daerah lintas wilayah, serta perwakilan pemerintah pusat.
Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan bahwa penataan jalur lingkar kaldera merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan wisata.
"Kawasan Bromo merupakan salah satu destinasi unggulan Jawa Timur. Penataan ini penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Khofifah.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
"Keterlibatan masyarakat lokal, termasuk pelaku usaha wisata seperti jip, kuda, dan UMKM, harus menjadi bagian dari pengembangan kawasan ini,” katanya.
Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi saat ini mengedepankan keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan.
"Penataan JLKT merupakan bagian dari pengembangan kawasan konservasi berbasis ekowisata, dengan tetap menjaga nilai ekologis dan budaya yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Probolinggo Mohammad Haris Damanhuri Romly menyampaikan dukungan terhadap program tersebut.
"Kami mendukung penuh program ini sebagai upaya meningkatkan kualitas kawasan wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.
Pihak pengelola kawasan menyebut penataan JLKT dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang berdampak pada tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur. Penataan dilakukan untuk meningkatkan keselamatan, memperbaiki aksesibilitas, serta menata aktivitas ekonomi agar lebih tertib.
Kegiatan ditandai dengan peletakan batu pertama, penandatanganan prasasti, serta peninjauan lokasi. Selain itu, dilakukan pula peresmian sarana air bersih sebagai bagian dari peningkatan layanan dasar di kawasan wisata.
Sejumlah pihak menilai keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan nilai-nilai adat masyarakat Tengger yang telah diwariskan lintas generasi.(na/mpn)