PROBOLINGGO - Keresahan masyarakat atas meningkatnya aksi kejahatan jalanan yang memunculkan narasi “Probolinggo Darurat Begal” di media sosial mendapat perhatian dari organisasi kepemudaan dan pelajar.
Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Probolinggo, Ahmad Dwi Juharmanto, menyampaikan pernyataan sikap menyusul sejumlah kasus kriminal yang meresahkan warga, termasuk pelajar, santri, dan pekerja.
Ia menegaskan bahwa situasi tersebut merupakan ancaman nyata yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Ahmad menyoroti dua insiden yang baru terjadi, yakni pembacokan seorang pemuda dalam aksi pembegalan di kawasan Wonomerto pada akhir Maret, serta perampasan sepeda motor oleh kelompok bersenjata tajam di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, pada awal April.
“Kejadian-kejadian ini bukan sekadar angka statistik kriminalitas. Ini adalah teror yang merenggut hak dasar masyarakat, yakni hak atas rasa aman,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Meski situasi memicu kekhawatiran, PC IPNU Kabupaten Probolinggo mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan yang berlebihan, serta menghindari tindakan main hakim sendiri.
Ahmad menyampaikan sejumlah seruan strategis kepada masyarakat dan aparat. Ia mendorong kepolisian untuk meningkatkan patroli, khususnya di titik rawan dan wilayah minim penerangan, serta mengoptimalkan pergerakan unit reaksi cepat pada jam-jam rawan.
Di sisi lain, ia mengajak masyarakat untuk mengubah rasa takut menjadi kewaspadaan kolektif. Warga, terutama pelajar dan pemuda, diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di malam hari, tidak bepergian sendirian di jalur sepi, dan mengupayakan perjalanan secara berkelompok bila diperlukan.
Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan di tingkat desa serta mendorong pemerintah daerah untuk memperbaiki penerangan jalan umum yang masih menjadi titik rawan kejahatan.
Selain itu, Ahmad menyoroti bahwa upaya pencegahan kejahatan tidak hanya bergantung pada aspek keamanan semata, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Menurutnya, ketiga pilar tersebut perlu kembali diperkuat sebagai benteng utama dalam membentuk karakter generasi muda agar tidak mudah terjerumus pada perilaku menyimpang dan tindak kriminal.
Menutup pernyataannya, Ahmad mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban di Kabupaten Probolinggo.
“Probolinggo adalah rumah kita. Rumah yang dibangun dengan nilai-nilai kesantunan, religiusitas, dan kedamaian. Mari kita rapatkan barisan, jaga keluarga dan sahabat kita, serta berkolaborasi untuk mengembalikan rasa aman di tanah Probolinggo,” pungkasnya.