KRAKSAAN - Peringatan Haflah Akhirussanah dan Harlah ke-30 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, berlangsung khidmat dan meriah, Rabu (malam). Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari ulama, habaib, tokoh pemerintahan, hingga masyarakat umum.
Kehadiran Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, menjadi perhatian utama dalam kegiatan tersebut. Ia tiba di lokasi sekitar pukul 20.10 WIB dan langsung bergabung dalam rangkaian acara yang telah disiapkan oleh panitia.
Acara dimulai pukul 20.15 WIB dengan susunan kegiatan religius dan kebangsaan, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Yasin dan tahlil, sholawat nabi, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subbanul Wathon. Momentum ini mencerminkan perpaduan nilai keislaman dan nasionalisme yang menjadi karakter khas pesantren.
Ketua panitia, Ahmad Sukamto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam pelaksanaan acara.
Sementara itu, perwakilan wali santri, Ibu Maryam, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam membentuk karakter generasi muda. Ia menyampaikan terima kasih kepada para pengasuh dan tenaga pendidik atas dedikasi dalam mendidik para santri.
Pengasuh pondok pesantren, Gus Abdul Qadir, dalam sambutannya menekankan pentingnya persatuan lintas elemen sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ia menyebut kehadiran berbagai kalangan dalam satu forum sebagai simbol kuatnya harmoni sosial.
“Momentum ini luar biasa. Kehadiran pejabat, ulama, petani hingga pedagang menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kunci utama menjaga Indonesia tetap aman, damai, dan sejahtera,” ujarnya.Kamis 23 April 2026
Ia juga mengapresiasi stabilitas sektor pangan nasional yang dinilai tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global, serta menilai hal tersebut tidak lepas dari kepemimpinan pemerintah pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa kondisi ekonomi nasional relatif stabil dibandingkan sejumlah negara lain yang tengah menghadapi krisis. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok, termasuk bahan bakar minyak.
“Secara global banyak negara mengalami tekanan ekonomi. Namun Indonesia masih mampu menjaga stabilitas, termasuk harga BBM yang relatif terkendali,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai di dalam negeri dipengaruhi faktor global, terutama keterlambatan distribusi akibat konflik internasional. Selain itu, pemerintah tengah mendorong pembentukan Koperasi Merah Putih sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat desa.
Khusus untuk wilayah Probolinggo, ia menyoroti pentingnya peningkatan distribusi LPG agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penampilan santri berprestasi, serta pemberian penghargaan langsung oleh Menko Pangan kepada santri terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian akademik dan non-akademik.
Nuansa religius semakin terasa dengan tausiyah yang disampaikan oleh KH. Asep Syaifudin Chalim dan KH. Abdul Muthalib, yang menekankan pentingnya peran pesantren dalam membentuk moral dan kepemimpinan generasi masa depan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, sebelum akhirnya Menko Pangan bersama rombongan meninggalkan lokasi sekitar pukul 22.40 WIB menuju Kota Probolinggo.
Perhelatan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga mempertegas posisi pesantren sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi nasional. Soft branding kepemimpinan nasional dalam menjaga ketahanan pangan, serta peran pengasuh pesantren seperti Gus Qodir dalam merawat harmoni sosial, tampak menyatu dalam satu panggung kebersamaan yang kuat dan berkelanjutan.(IN)