PROBOLINGGO – Tradisi Petik Laut yang digelar masyarakat Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (1/7/2026) kembali menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat pesisir sekaligus menjaga warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi larung sesaji (bitek) ke laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil tangkapan yang diperoleh selama setahun. Ribuan warga turut memadati kawasan pesisir untuk mengikuti rangkaian tradisi tersebut.
Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar, Intan Cahya Kurniasari, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa Petik Laut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tradisi tahunan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat sekaligus mencerminkan perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi warga pesisir.
“Alhamdulillah setiap tahun saya dapat hadir bersama masyarakat Kalibuntu dalam perayaan Petik Laut. Menurut saya, ini bukan sekadar agenda tahunan ataupun kegiatan yang mengundang banyak pengunjung. Ada nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang terus dijaga oleh masyarakat. Selain itu, kita juga bisa melihat perkembangan kesejahteraan masyarakat Kalibuntu dari tahun ke tahun,” ujar Intan.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian masyarakat Kalibuntu saat ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Karena itu, menurutnya, tradisi Petik Laut perlu terus dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya yang juga mampu memberikan dampak positif bagi aktivitas ekonomi masyarakat.
“Harapan saya, melalui Petik Laut ini masyarakat Kalibuntu semakin guyub, perekonomian terus tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” katanya.
Selain menyoroti pelestarian budaya, Intan juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal penanganan banjir rob yang selama ini menjadi salah satu perhatian masyarakat pesisir Kalibuntu.
Ia menjelaskan bahwa sekitar dua tahun lalu dirinya memperjuangkan aspirasi masyarakat hingga terealisasi program penanganan banjir rob dengan nilai anggaran sekitar Rp4,2 miliar yang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Alhamdulillah, program penanganan banjir rob yang saat itu kami perjuangkan kini sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Tentu ini bukan akhir dari upaya yang dilakukan, tetapi menjadi langkah awal untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat pesisir,” jelasnya.
Menurut Intan, persoalan banjir rob tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu tahap pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun serta dukungan program lanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkesinambungan.
“Yang tidak kalah penting adalah menjaga dan melakukan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah ada. InsyaAllah apabila ke depan ada program lanjutan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami akan terus mengawal dan mendukung agar penanganan banjir rob di Kalibuntu dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan demi kenyamanan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalibuntu mengatakan bahwa pelaksanaan Petik Laut 2026 dipersiapkan hampir satu tahun melalui koordinasi antara pemerintah desa, panitia, dan masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal.
“Tradisi ini merupakan warisan para leluhur yang harus terus dijaga. Kami juga melibatkan generasi muda dalam kepanitiaan agar mereka memahami makna Petik Laut dan dapat meneruskan tradisi ini di masa mendatang,” ujar Kepala Desa Kalibuntu.
Melalui pelestarian tradisi budaya yang diiringi dengan perhatian terhadap pembangunan kawasan pesisir, Petik Laut Kalibuntu diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga mampu memperkuat kebersamaan masyarakat serta mendukung peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan warga pesisir Kabupaten Probolinggo.