PROBOLINGGO – Masyarakat Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, kembali menggelar tradisi Petik Laut pada Rabu (1/7/2026). Tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil tangkapan laut sekaligus upaya melestarikan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi larung sesaji (bitek) ke laut yang diikuti masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para tamu undangan. Sebelum puncak acara, rangkaian kegiatan telah diawali dengan pasar malam, doa bersama, tahlil, Kalibuntu Bersholawat, serta berbagai hiburan rakyat yang melibatkan masyarakat.
Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Asisten I Setda Kabupaten Probolinggo Abdul Ghofur, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Habib Mahdi, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Khoirul Anam, Intan Cahya Kurniasari, Ahmad Abdul Qodir, Camat Kraksaan Puja Kurniawan, Kapolsek Kraksaan AKP Masykur, serta unsur Forkopimka dan tokoh masyarakat.
Kepala Desa Kalibuntu mengatakan, persiapan Petik Laut 2026 telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan. Menurutnya, pemerintah desa bersama panitia langsung melakukan evaluasi usai pelaksanaan Petik Laut tahun sebelumnya, kemudian membentuk kepanitiaan untuk penyelenggaraan tahun berikutnya.
“Persiapan kegiatan ini sudah kami lakukan sejak selesai Petik Laut tahun lalu. Setelah evaluasi, kami membentuk panitia dan mulai menyusun seluruh rangkaian kegiatan. Persiapannya berlangsung sekitar sepuluh hingga sebelas bulan agar pelaksanaan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Petik Laut tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Desa Kalibuntu, tetapi juga terbuka bagi masyarakat dari berbagai daerah yang ingin menyaksikan tradisi budaya pesisir tersebut.
“Harapan kami, Petik Laut ini dapat dinikmati tidak hanya oleh masyarakat Kalibuntu, tetapi juga masyarakat dari luar desa. Alhamdulillah setiap tahun antusiasme masyarakat semakin tinggi,” katanya.
Menurut Kepala Desa Kalibuntu, tradisi Petik Laut telah berlangsung sejak puluhan tahun silam dan menjadi warisan yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir.
“Sejak saya masih kecil sekitar tahun 1994, tradisi ini sudah ada. Bahkan kemungkinan besar sudah berlangsung jauh sebelumnya sebagai warisan para leluhur. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus melestarikan tradisi ini sekaligus melibatkan generasi muda agar nilai-nilai budaya tetap terjaga,” tuturnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Habib Mahdi mengapresiasi konsistensi masyarakat Kalibuntu dalam mempertahankan tradisi Petik Laut sebagai bagian dari budaya daerah.
Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil yang diperoleh para nelayan.
“Saya mengapresiasi masyarakat Kalibuntu yang tetap menjaga tradisi Petik Laut setiap tahun. Ini menunjukkan kekompakan masyarakat dalam melestarikan budaya dan menjaga nilai-nilai kebersamaan. Semoga tradisi ini terus lestari dan setiap tahunnya dapat diselenggarakan dengan lebih baik,” ujar Habib Mahdi.
Pada kesempatan yang sama, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar Intan Cahya Kurniasari menilai Petik Laut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tradisi tahunan.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat perkembangan kehidupan masyarakat pesisir, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
“Petik Laut bukan hanya tradisi tahunan. Ada nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang terus dijaga masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk melihat perkembangan kesejahteraan masyarakat Kalibuntu dari tahun ke tahun,” kata Intan.
Dalam kesempatan tersebut, Intan juga menyinggung upaya penanganan banjir rob yang sebelumnya telah dilakukan di kawasan pesisir Kalibuntu. Ia menyebut pembangunan yang telah terealisasi merupakan langkah awal yang perlu diikuti dengan pemeliharaan dan dukungan program lanjutan.
“Program penanganan banjir rob yang sudah berjalan tentu perlu dijaga bersama melalui pemeliharaan yang baik. Penanganan persoalan ini tidak bisa selesai dalam satu tahap saja, sehingga diperlukan keberlanjutan program agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Tradisi Petik Laut Kalibuntu hingga kini tidak hanya dipandang sebagai bentuk rasa syukur masyarakat nelayan, tetapi juga menjadi salah satu agenda budaya yang memperkuat identitas kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo. Pemerintah desa berharap keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut dapat menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mendukung pengembangan potensi budaya dan perekonomian lokal di masa mendatang.
Pewarta: Verawati