PROBOLINGGO – Penguatan ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di tengah derasnya arus digitalisasi menjadi perhatian Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong, Kabupaten Probolinggo.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) 1 Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) yang digelar di Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, Jumat (30/10/2026).
Sebanyak 30 peserta dari kalangan mahasiswa UNZAH Genggong dan Pondok Pesantren Nurul Qodim mengikuti kegiatan kaderisasi tersebut. Mereka dibekali pemahaman ideologi, kepemimpinan, keorganisasian, hingga perspektif gender sebagai bagian dari penguatan kapasitas kader muda Nahdlatul Ulama.
Berbeda dengan pola penyampaian materi satu arah, kegiatan ini mengedepankan diskusi interaktif dan studi kasus yang berkaitan dengan persoalan aktual di lingkungan kampus maupun kehidupan sosial.
Materi yang diberikan mencakup empat aspek utama, yakni Keaswajaan, Ke-IPNU-IPPNU-an, Keorganisasian dan Kepemimpinan, serta Studi Gender.
Dalam materi Keaswajaan, peserta diajak memahami relevansi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi, termasuk pengaruh media sosial dan derasnya arus informasi digital.
Sementara itu, materi keorganisasian menitikberatkan pada penguatan karakter kepemimpinan yang berlandaskan prinsip tawazun atau keseimbangan. Adapun pembahasan studi gender diarahkan pada pemahaman hubungan yang adil dan setara melalui pendekatan mubadalah atau kesalingan.
Ketua PK IPNU UNZAH Genggong menegaskan bahwa RTL 1 bukan sekadar agenda lanjutan setelah MAKESTA, melainkan tahapan penting dalam membentuk karakter, kesadaran ideologis, dan tanggung jawab berorganisasi.
“RTL 1 ini bukan sekadar formalitas setelah MAKESTA. Ini adalah cara kita menyalakan api, bukan hanya mengisi ember,” ujarnya.
Menurutnya, kaderisasi harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda, khususnya mahasiswa yang hidup di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
“Kami ingin 30 peserta hari ini tidak hanya tahu apa itu IPNU IPPNU, tapi merasakan bahwa Aswaja itu relevan untuk menjawab keresahan mereka sebagai mahasiswa hari ini, mulai dari organisasi hingga isu gender,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan kader yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan kuat, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dengan kehidupan intelektual di lingkungan perguruan tinggi.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi, terutama ketika membahas kepemimpinan perempuan dan peran kader IPPNU dalam proses pengambilan keputusan organisasi.
Salah seorang peserta dari UNZAH Genggong mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti pembahasan studi gender dan keorganisasian.
“Materi Studi Gender dan Keorganisasiannya sangat membuka pikiran,” ungkapnya.
Menurut peserta tersebut, pembahasan yang dikaitkan dengan kasus nyata di lingkungan kampus membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus membuka ruang diskusi mengenai peran perempuan dalam organisasi.
Melalui kegiatan ini, PK IPNU-IPPNU UNZAH Genggong berharap kader yang telah mengikuti MAKESTA tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mampu menerapkan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan akademik, sosial, dan organisasi.
RTL 1 MAKESTA sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda NU yang memiliki landasan ideologi kuat, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan mengambil peran kepemimpinan di tengah perubahan zaman. AL/MA


