PAKUNIRAN - Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Probolinggo pada awal Februari 2026 memicu terjadinya bencana alam berupa tanah longsor dan angin puting beliung di sejumlah titik. Dua lokasi yang terdampak cukup signifikan berada di Desa Kotaanyar, Kecamatan Kotaanyar, dan Desa Sumber Kembar, Kecamatan Pakuniran. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan rumah warga dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana susulan.
Di Desa Sumber Kembar, Dusun Gedung Pawon, RT 02 RW 04, Kecamatan Pakuniran, angin puting beliung dilaporkan berdampak pada sembilan rumah warga. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, sebagian rumah telah diperbaiki secara swadaya oleh pemiliknya. Namun, beberapa rumah lainnya masih membutuhkan penanganan lanjutan karena keterbatasan kemampuan ekonomi warga terdampak.
Pada Minggu (8/2/2026), anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari daerah pemilihan Paiton–Kotaanyar–Pakuniran, Fikri Syafi’i, meninjau langsung lokasi terdampak bersama pengurus partai tingkat kecamatan dan desa. Dalam kunjungan tersebut, diserahkan bantuan awal sebagai bentuk respon darurat untuk meringankan beban warga.
“Dari informasi warga, sekitar sembilan rumah terdampak. Sebagian sudah selesai diperbaiki, tetapi masih ada beberapa rumah yang memerlukan penanganan lanjutan karena keterbatasan ekonomi pemiliknya,” ujar Fikri.
Lokasi kedua yang dikunjungi berada di Desa Kotaanyar, Dusun Kerajaan, RT 05 RW 02, Kecamatan Kotaanyar. Di wilayah ini, tanah longsor merusak bagian dapur belakang satu rumah warga. Longsor terjadi akibat pengikisan tanah tebing oleh aliran air sungai yang debitnya meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Menurut keterangan warga setempat, pihak desa dan kecamatan sebelumnya telah melakukan penanganan awal dengan penimbunan material tanah di area rawan longsor, menggunakan sekitar lima unit dump truck. Namun, material tersebut kembali tergerus air sehingga tidak lagi berfungsi optimal sebagai penahan longsor.
“Jika tidak segera ada tindakan lanjutan yang lebih permanen, longsor ini berpotensi merambat ke arah timur dan mengancam rumah warga di sekitarnya, terutama karena debit air sungai hingga kini belum surut,” kata Fikri.
Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Arif Hidayat, menjelaskan bahwa keterlibatan kader partai dalam respon bencana dilakukan di tengah agenda organisasi yang sedang berjalan. Menurutnya, kehadiran di lapangan merupakan bagian dari tanggung jawab wakil rakyat dalam memastikan kondisi masyarakat tetap menjadi perhatian utama.
“Kami menugaskan perwakilan di wilayah terdampak untuk memastikan kondisi warga dan menyalurkan bantuan awal. Agenda organisasi tetap berjalan, tetapi respon terhadap kondisi darurat masyarakat tidak boleh terabaikan,” ujarnya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo, Khairul Anam, menyampaikan bahwa kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana merupakan bagian dari komitmen sosial yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh kader.
“Ketika warga menghadapi musibah, sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk hadir dan membantu sesuai kemampuan. Bantuan awal ini diharapkan dapat meringankan beban warga sambil menunggu penanganan lanjutan dari pihak terkait,” ujarnya.
Selain penyerahan bantuan awal, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan pendataan kerusakan serta berkomunikasi dengan aparat desa guna mendorong koordinasi penanganan lanjutan, khususnya pada titik-titik rawan longsor yang berpotensi membahayakan permukiman warga.
Hingga saat ini, warga di kedua lokasi masih melakukan pembersihan lingkungan dan perbaikan sementara secara gotong royong. Mereka berharap adanya penanganan lanjutan yang lebih permanen agar risiko bencana susulan dapat diminimalkan dan lingkungan tempat tinggal kembali aman.
Peristiwa di Kotaanyar dan Pakuniran ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di wilayah rawan bencana. Penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menjaga keselamatan warga sekaligus memulihkan kondisi permukiman terdampak.(IN)