KRUCIL - Putusnya jembatan penghubung Desa Guyangan dan Desa Betek akibat banjir pada 20 Februari 2026 kembali mengguncang aktivitas warga di Kecamatan Krucil. Infrastruktur yang menjadi akses utama masyarakat itu hanyut untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir, setelah sebelumnya jembatan beton hasil swadaya warga juga rusak pada Februari 2025.
Jembatan tersebut menjadi jalur vital bagi warga Dusun Lebbe, Dusun Ledduk, dan Dusun Gligir. Selain mempercepat akses pendidikan dan pekerjaan, jembatan ini merupakan nadi distribusi hasil pertanian menuju Betek dan Pasar Condong. Tanpa jembatan itu, warga harus memutar melalui jalur lain dengan jarak lebih jauh dan biaya transportasi yang dinilai tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Kepala Dusun Lebbe, Pujiono, menyebut masyarakat sudah berulang kali membangun jembatan secara mandiri. “Dulu jembatan beton itu hasil swadaya, hanyut. Kami bangun lagi darurat, sekarang hilang lagi. Ini akses ekonomi tiga dusun. Harapan kami ada perhatian pemerintah,” ujarnya.
Kepala Dusun Gligir, Abdus Salim, menambahkan bahwa seluruh pembangunan sebelumnya murni dari gotong royong warga. “Kami bingung karena jalan ini bukan milik desa. Kalau harus urunan terus, kasihan warga. Untuk kebutuhan sehari-hari saja masih sulit,” katanya.
Hal senada disampaikan Umar Jailani, warga Dusun Lebbe. Ia mengaku aktivitas ekonomi hampir lumpuh. “Ini bukan sekali dua kali kami swadaya. Kirim hasil pertanian jadi sulit. Lewat jalur lain bisa, tapi tidak nutut biayanya. Kami berharap ada atensi dari pemerintah,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PPP, Mahdi S.E yang akrab disapa Kang Mahdi turun langsung meninjau lokasi. Kehadirannya disambut warga sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan yang telah berulang.
“Hari ini saya melihat langsung kondisi jembatan penghubung Betek dan Guyangan. Ini akses yang sangat vital karena bisa memangkas perjalanan hampir satu jam. Ini kebutuhan mendasar masyarakat,” ungkapnya.
kang Mahdi menegaskan akan membawa persoalan ini ke tingkat pemerintah daerah dan mendorong agar kerusakan jembatan dapat diusulkan sebagai bagian dari penanganan bencana ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Mudah-mudahan dengan melihat langsung di lapangan, aspirasi warga bisa segera ditindaklanjuti dan penanganannya tidak berlarut-larut,” ujarnya.
Bagi warga Krucil, jembatan Guyangan–Betek bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan penghubung harapan antara hasil panen dan pasar, antara anak-anak dan sekolah, antara desa dan masa depan. Mereka kini menanti langkah konkret agar gotong royong tidak lagi menjadi satu-satunya sandaran setiap kali banjir datang.(ma/ko)