-->

Notification

×

Sekolah Guru Zaman Belanda di Probolinggo Ini Menyatukan Budaya Jawa dan Kisah Alkitab

Senin, 08 Juni 2026 | Juni 08, 2026 WIB | Last Updated 2026-06-08T00:00:58Z

PROBOLINGGO - Jika mendengar kisah Daud dan Goliat dipentaskan dalam bentuk wayang orang berbahasa Jawa, sebagian orang mungkin mengira hal itu baru terjadi pada era modern. Faktanya, peristiwa tersebut pernah terjadi di Probolinggo hampir satu abad yang lalu.

Kisah unik itu terekam dalam berbagai arsip surat kabar Hindia Belanda yang mendokumentasikan aktivitas para siswa Normaalschool Probolinggo, sebuah sekolah pendidikan guru pada masa kolonial Belanda. Melalui sekolah inilah terjadi pertemuan menarik antara pendidikan, agama, dan budaya lokal yang melahirkan bentuk akulturasi budaya yang jarang diketahui masyarakat saat ini.

Normaalschool merupakan salah satu lembaga pendidikan guru yang beroperasi di Probolinggo pada masa kolonial. Sekolah ini memiliki peran penting dalam menyiapkan tenaga pendidik pribumi yang nantinya akan mengajar di berbagai sekolah rakyat. Pada masanya, menjadi guru merupakan salah satu profesi yang cukup bergengsi dan diminati masyarakat.

Tingginya minat tersebut dapat dilihat dari arsip surat kabar De Locomotief tahun 1927 yang mencatat sedikitnya 133 orang mengikuti seleksi masuk Normaalschool di Probolinggo. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa akses pendidikan guru menjadi harapan banyak masyarakat untuk memperoleh masa depan yang lebih baik di tengah keterbatasan kesempatan pendidikan pada masa kolonial.  


Di balik aktivitas belajar mengajar, para siswa Normaalschool ternyata juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seni dan keagamaan. Salah satu yang paling menarik terjadi pada tahun 1934 ketika sejumlah siswa sekolah guru Katolik di Probolinggo menampilkan wayang wong atau wayang orang dengan lakon Daud dan Goliat, sebuah cerita yang berasal dari tradisi Alkitab.


Meski mengangkat kisah religius dari dunia Barat, pertunjukan tersebut tetap menggunakan bahasa Jawa dan gaya pementasan wayang orang yang sudah dikenal luas oleh masyarakat setempat. Perpaduan inilah yang menjadikan pertunjukan tersebut menarik sekaligus unik.


Arsip De Indische Courant mencatat bahwa penampilan para siswa itu mendapat sambutan positif dari para penonton. Bahkan sejumlah komunitas Katolik Jawa yang hadir saat itu memberikan apresiasi atas keberhasilan para siswa menghadirkan cerita Alkitab dalam kemasan budaya Jawa yang terasa akrab dan mudah dipahami masyarakat.  


Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal tidak selalu tersingkir ketika berhadapan dengan pengaruh luar. Sebaliknya, budaya Jawa justru menjadi jembatan yang memungkinkan berbagai nilai dan cerita baru diterima oleh masyarakat melalui bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Tradisi seni pertunjukan di lingkungan Normaalschool tampaknya tidak berhenti pada kisah Daud dan Goliat. Arsip tahun 1935 menunjukkan bahwa para siswa kembali menampilkan wayang orang dalam rangkaian acara kelulusan sekolah. Kali ini cerita yang dibawakan adalah “Pemberontakan Lucifer”, yang juga diadaptasi dari tradisi Kristen ke dalam bentuk pertunjukan Jawa.  


Acara kelulusan tersebut berlangsung meriah dan dihadiri berbagai tokoh penting pada masa itu. Bagi para siswa, pertunjukan tersebut bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi seni yang memperlihatkan kemampuan mereka menggabungkan unsur budaya lokal dan cerita keagamaan dalam satu panggung.


Namun perjalanan Normaalschool Probolinggo tidak berlangsung lama. Pada tahun 1935, pemerintah kolonial Belanda menjalankan kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Normaalschool menjadi salah satu lembaga yang terkena dampak kebijakan tersebut.


Secara bertahap sekolah menghentikan penerimaan siswa baru dan hanya menyelesaikan pendidikan bagi siswa yang masih aktif hingga mereka lulus. Setelah itu, aktivitas sekolah dihentikan. Keputusan tersebut menandai berakhirnya perjalanan salah satu sekolah guru yang pernah memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan di Probolinggo.  


Dampak penutupan sekolah juga dirasakan para tenaga pengajar. Salah satu guru yang tercatat dalam arsip adalah Soeria Bonoroesid, yang kemudian meninggalkan Probolinggo dan menetap di Yogyakarta setelah sekolah memasuki masa penutupan.  


Kini, nama Normaalschool mungkin tidak lagi dikenal oleh banyak warga Probolinggo. Bangunan dan aktivitasnya telah lama menjadi bagian dari masa lalu. Namun arsip-arsip kolonial yang tersimpan hingga hari ini memperlihatkan bahwa sekolah tersebut pernah menjadi ruang penting bagi lahirnya perjumpaan budaya yang unik.

Dari 133 Calon Guru yang berebut bangku pendidikan hingga pertunjukan Wayang orang yang mengangkat kisah kisah Alkitab, Normaalschool Probolinggo menyisakan Cerita Menarik tentang bagaimana Pendidikan mampu menjadi jembatan antara tradisi lokal dan pengaruh global. Ditengah berbagai perubahan zaman, kisah itu menjadi pengingat bagwa pertemuan budaya telag lama menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat indonesia

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->