KRUCIL - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Krucil #001 menggelar selamatan praoperasional di Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, Rabu (12/8/2026). Kehadiran dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut menambah jumlah SPPG yang dibuka di Kecamatan Krucil menjadi tiga unit.
Kegiatan praoperasional itu dihadiri Wakil Bupati Probolinggo Fahmi Abdul Haq Zaini (Ra Fahmi AHZ), Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Abror Banyuwangi KH Fadlurrahman Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatut Tijani Habib Quraisy bin Muhammad bin Jakfar Albaharun, Habib Nuh Baraqbah, serta Camat Krucil Febri yang juga terlibat dalam Satgas MBG tingkat kecamatan.
Dalam sambutannya, Ra Fahmi menegaskan bahwa keberadaan SPPG harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Menurutnya, program MBG diharapkan ikut membantu pemerintah dalam menangani persoalan stunting dan gizi buruk, termasuk yang masih menjadi tantangan di Kabupaten Probolinggo.
“Keinginan pemerintah pusat berkaitan dengan pelaksanaan program ini tidak lain untuk bisa mengatasi persoalan gizi masyarakat yang ada di seluruh Indonesia, utamanya termasuk yang ada di Kabupaten Probolinggo,” kata Ra Fahmi.
Ia berharap manfaat program tersebut pada akhirnya tidak berhenti pada distribusi makanan, melainkan turut berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang.
“Kita berharap dengan adanya program ini kemudian perlahan bisa ikut membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Sehingga SDM Kabupaten Probolinggo, khususnya SDM yang ada di Krucil, bisa menjadi SDM yang unggul, kompetitif, dan siap ikut mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Minta Pengelola SPPG Kompak dan Patuhi Ketentuan
Selain menyoroti tujuan program, Ra Fahmi mengingatkan seluruh unsur pengelola SPPG Krucil #001 untuk membangun kerja tim yang solid. Kepala SPPG, tenaga gizi hingga seluruh personel yang terlibat diminta bekerja sebagai satu kesatuan tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang maupun daerah asal.
Menurut dia, kekompakan menjadi salah satu faktor penting agar pelayanan pemenuhan gizi dapat berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Saya titip agar seluruh tim yang berada di SPPG ini menjadi satu kesatuan yang kompak, saling mendukung, agar apa yang menjadi mimpi pemerintah untuk betul-betul memperbaiki gizi masyarakat bisa terwujud di Krucil,” katanya.
Ra Fahmi juga meminta standar dan ketentuan penyelenggaraan MBG dijalankan secara disiplin. Pesan tersebut disampaikan menyusul berbagai persoalan yang muncul dalam implementasi program di sejumlah daerah.
“Saya mengingatkan kepada Kepala SPPG, Kepala Gizi dan seterusnya agar betul-betul bisa melaksanakan program ini sesuai dengan apa yang sudah menjadi ketentuan pemerintah,” tegasnya.
Menurutnya, apabila ditemukan penyimpangan dalam implementasi MBG, persoalan tersebut harus dibedakan dari tujuan program secara keseluruhan.
“Kalaupun di luar sana ada penyimpangan-penyimpangan, tentu itu bukan karena programnya, tapi mungkin karena oknum-oknumnya. Mari kita buktikan bahwa SPPG Krucil ini insyaallah bisa menjadi contoh bagi SPPG lain yang ada di sekitarnya,” ujarnya.
MBG Didorong Gerakkan Ekonomi Masyarakat Krucil
Selain aspek pemenuhan gizi, Pemerintah Kabupaten Probolinggo berharap keberadaan SPPG mampu menciptakan efek ekonomi berganda bagi masyarakat sekitar. Kebutuhan bahan pangan dapur MBG dinilai dapat membuka ruang keterlibatan petani, pekebun, pemasok, maupun pelaku usaha lokal.
Ra Fahmi secara khusus meminta agar potensi pertanian dan perkebunan di Kecamatan Krucil dapat masuk dalam rantai pasok SPPG sepanjang memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku.
“Bagaimana kemudian hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil sayur, hasil buah-buahan masyarakat sekitar ini juga dilibatkan,” katanya.
Krucil, menurut Ra Fahmi, memiliki potensi komoditas hortikultura yang besar sehingga kebutuhan pangan SPPG semestinya dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian setempat. Dalam sambutannya, ia bahkan menyinggung potensi buah-buahan, termasuk durian, dengan nada berseloroh.
“Krucil ini salah satu daerah penghasil buah terbaik di Probolinggo. Bahkan kalau memang anggarannya sanggup, di sini banyak durian,” ujarnya.
Namun, substansi yang ingin dibangun, lanjut dia, adalah terciptanya ekosistem ekonomi di tingkat desa. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh pekerja yang berada di dalam SPPG, tetapi juga masyarakat yang memasok kebutuhan pangan dan aktivitas pendukung lainnya.
“Sederhananya tentu tidak hanya yang beraktivitas di dalam ini yang mendapatkan manfaat dari SPPG. Bagaimana masyarakat sekitar juga ikut menikmati dari apa yang dilaksanakan di tempat ini,” katanya.
Camat Diminta Perkuat Monitoring
Ra Fahmi turut meminta Camat Krucil bersama Satgas MBG tingkat kecamatan melakukan monitoring, evaluasi, serta pendampingan terhadap pelaksanaan program. Pengawasan tersebut dinilai penting untuk memastikan operasional SPPG berjalan sesuai standar sekaligus mencegah munculnya persoalan di kemudian hari.
Ia berharap koordinasi antara pengelola SPPG, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat dapat terus diperkuat setelah dapur mulai beroperasi.
Dengan bertambahnya SPPG Krucil #001, Kecamatan Krucil kini memiliki tiga dapur MBG. Kehadiran unit baru tersebut diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat program pemenuhan gizi, tetapi juga mampu membangun rantai ekonomi lokal dengan melibatkan potensi pangan masyarakat sekitar.
“Selain menyelesaikan persoalan gizi, bagaimana kemudian program ini bisa membangun ekosistem perekonomian di level yang paling bawah, di tingkat desa,” pungkas Ra Fahmi.