-->

Notification

×

Aku Menyelam Agar Tidak Ditenggelamkan

Senin, 26 Januari 2026 | Januari 26, 2026 WIB | Last Updated 2026-01-25T20:11:54Z

Probolinggo bukan sekadar tempat kelahiranku. Ia adalah ruang ujian.

Aku dilahirkan di kaki Gunung Argopuro, di wilayah yang jauh dari denyut peradaban modern, tempat hukum rimba masih bersembunyi di balik keramahan sehari-hari. Di sini, hidup sering kali tidak memberi pilihan hanya ketahanan. Sudah lima tahun aku menetap, meski dulu aku sendiri ragu: mungkinkah seseorang bertahan, apalagi hidup dari karya, kreativitas, dan ide, di kabupaten terpencil yang lama dilekatkan pada kemiskinan?

Awal 2020 menjadi garis patah.

Pandemi datang seperti palu, menghantam tanpa aba-aba. Aku pulang ke tanah kelahiran dengan tangan kosong, memulai hidup dari titik minus. Yang kumiliki hanyalah sebuah kamera, laptop ThinkPad yang kubeli dengan kartu kredit, dan sebuah ponsel Google Pixel barang-barang yang di desaku tampak seperti simbol kemajuan, tetapi bagiku hanyalah alat terakhir untuk bertahan. Aku percaya alat-alat itu akan menyelamatkanku. Aku keliru.


Setahun kemudian, semuanya terjual.

Satu per satu. Ditukar dengan waktu hidup. Aku kehilangan arah. Kendaraan tak kupunya; ke mana-mana aku menumpang motor saudara barangkali karena mereka tak tega melihatku berjalan kaki. Tahun pertama adalah musim jatuh yang panjang: aku benar-benar drop, tenggelam dalam culture shock yang sunyi dan memalukan.


Setiap pagi, telingaku dibangunkan oleh suara sound system yang nyaring dan bergetar. Musik jedag-jedug mengalir tanpa kompromi lagu-lagu yang sebenarnya kukenal dan kuhafal, Megi Z, Ebit G Ade. Irama yang dulu akrab, kini terasa asing. Aku belajar satu hal yang pahit: rumah bisa berubah menjadi tempat yang tidak lagi mengenalmu.

Aku menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencari diriku sendiri.

Dan selama itu pula, hinaan datang seperti rutinitas. Aku menunduk. Bahkan kerap ikut menghinakan diri sendiri membodohkan diri, mengecilkan pikiran, memilih diam meski melihat kesalahan berdiri telanjang di depanku. Aku tahu konsekuensinya. Jika aku terlalu dominan, aku akan ditenggelamkan. Sementara fondasiku belum kuat. Aku belum punya apa-apa untuk menopang suara.


Maka aku memilih menyelam.

Aku mengikuti majelis-majelis ilmu, majelis taklim, ruang-ruang doa yang menawarkan ketenangan. Aku harus jujur: semua itu bukan aku sepenuhnya. Bahkan dalam shalat pun aku kerap berpura-pura berpura-pura khusyuk, berpura-pura pasrah. Dahi menempel di sajadah, tetapi hatiku menangis dan menjerit. Aku sedang berusaha bertahan, bukan sedang berpuncak iman.

Aku menyaksikan golonganku terjebak.

Terjebak dalam ruang-ruang yang membatasi nalar, terjerat doktrin “barokah” yang maknanya mengabur. Mereka diajarkan menerima apa pun atas nama takdir, percaya pada sedekah tanpa ruang bertanya. Aku bukan tidak percaya. Justru sebaliknya aku mungkin yang paling percaya pada kedahsyatan sedekah dan hakikat barokah.


Namun imanku menolak ketika keyakinan dijadikan alat pembodohan.

Hatiku menolak ketika sedekah diambil dari perut yang lapar, dari busung yang ditahan-tahan, sementara yang mengarahkan dan mengelolanya datang dengan mobil mewah berpayung #privillagewarisan orang tua. Di sanalah jeritanku mengeras: sunyi, tertahan, tetapi tidak pernah mati.


Aku memilih diam, bukan karena takut, melainkan karena sadar.

Suara tanpa fondasi hanya akan menjadi gema yang cepat padam. Aku mencatat, mengamati, menimbang. Aku belajar membedakan iman dan manipulasi, barokah dan branding, kesalehan dan panggung. Aku menunggu diriku cukup kuat bukan untuk menang, tetapi untuk tidak hancur.


Hari-hari berlalu.

Aku membangun sedikit demi sedikit: jaringan, keterampilan, keberanian. Aku berhenti berpura-pura pada diriku sendiri. Aku berdamai dengan luka, tanpa memaafkan kebohongan. Aku tahu, suatu saat aku akan bicara. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan argumen. Bukan dengan amarah, melainkan dengan karya.

Probolinggo tetap memanggilku.

Dengan debu, dengan bunyi, dengan kontradiksi. Aku menjawabnya dengan satu tekad yang tenang: hidup dari kebenaran yang kukerjakan, dan menolak #privillage yang menindas tanpa kehilangan iman, tanpa kehilangan kemanusiaan.

Di kaki Argopuro, aku belajar satu pelajaran paling sunyi:

aku menyelam agar tidak ditenggelamkan.

Dan dari sanalah aku bertahan pelan, sadar, dan tidak lagi pura-pura.


Penulis : Nurul Islam

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->