![]() |
| Foto : Hasil Tangkap Layar dari Video Viral |
PROBOLINGGO, 10 April 2026 - Sebuah video yang memperlihatkan kericuhan antara seorang oknum kepala desa dan pihak yang disebut sebagai perwakilan aktivitas tambang viral di sejumlah grup WhatsApp pada Jumat (10/4/2026). Peristiwa tersebut memicu perhatian publik karena diduga melibatkan aksi saling dorong hingga kontak fisik di lokasi tambang.
Berdasarkan penelusuran informasi dari kedua pihak yang terlibat, masing-masing memiliki versi berbeda terkait kronologi kejadian.
Salah satu pihak yang mengaku sebagai perwakilan aktivitas tambang, Joyo (nama samaran), menyampaikan bahwa dirinya didatangi oleh sekelompok orang dalam jumlah besar tanpa adanya komunikasi sebelumnya. Ia menyebut bahwa aktivitas tambang yang dijalankan berada di bawah perusahaan dengan izin resmi.
“Datang langsung membawa massa, jumlahnya lebih dari 20 orang, yang maju sekitar 10 orang. Saya berdiri saja, tidak tahu apa-apa, tiba-tiba langsung diserang tanpa ditanya masalahnya apa,” ujarnya.
Ia juga mengaku mengalami luka akibat insiden tersebut dan telah membuat laporan secara mandiri.
“Tangan saya sampai robek dan harus dijahit empat jahitan,” tambahnya.
Joyo juga menyebut bahwa sebelumnya telah terjadi ketegangan terkait aktivitas tambang, termasuk upaya penghentian kegiatan oleh pihak tertentu. Ia mengklaim bahwa pekerja di lokasi merupakan tenaga kerja yang berbeda, sementara dirinya hanya bertindak atas nama perusahaan.
Di sisi lain, Kepala Desa Patemon, M (nama Samaran), memberikan penjelasan berbeda. Ia menyatakan bahwa kehadirannya di lokasi berawal dari laporan masyarakat terkait dugaan penyerobotan lahan serta kerusakan yang diduga ditimbulkan oleh aktivitas tambang.
“Ada laporan warga terkait tanah yang diserobot dan adanya pengerusakan. Sebagai kepala desa, saya wajib menindaklanjuti laporan tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, pihak desa telah berupaya melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan, termasuk melalui surat resmi. Namun, hingga kejadian berlangsung, tidak ada tanggapan yang diterima.
“Saya tidak bermaksud menghalangi aktivitas tambang. Saya hanya meminta agar situasi dikondusifkan terlebih dahulu. Desa juga tidak pernah menerima salinan izin atau pemberitahuan resmi dari pihak perusahaan,” jelasnya.
Terkait dugaan kekerasan fisik, Kepala Desa M membantah adanya pemukulan. Ia menyebut interaksi yang terjadi merupakan bagian dari upaya meredakan situasi yang memanas.
“Saya hanya berusaha merangkul. Dalam kondisi ramai seperti itu, memang terjadi kontak fisik, tapi bukan pemukulan,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat konfirmasi resmi dari pihak kepolisian terkait kejadian tersebut. Informasi yang beredar masih bersumber dari keterangan masing-masing pihak yang terlibat.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik, terutama terkait aspek perizinan tambang, konflik lahan, serta komunikasi antara pihak perusahaan dan pemerintah desa. Masyarakat diimbau untuk menyikapi informasi yang beredar secara bijak dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang.(na/ko)
