GENDING - Rutinan Majelis Sholawat Nariyah yang digelar setiap malam Rabu Pon di Kabupaten Probolinggo tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai forum dialog antara masyarakat dan perwakilan legislatif. Dalam kegiatan yang berlangsung Selasa (5/5/2026), sejumlah persoalan publik seperti keamanan, penerangan jalan, dan distribusi gas subsidi menjadi sorotan utama.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Grha Kebangkitan lantai dua, Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, dan dihadiri puluhan jamaah serta jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Probolinggo.
Majelis dipimpin oleh Lora Hilman, putra KH Romzy Alamiri Mannan, sementara doa dipimpin oleh Lora Wakil, putra bungsu KH Maltuf Siraj. Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Probolinggo, Mochammad Alfatih.
Dalam sambutannya, Mochammad Alfatih yang akrab disapa Gus Fatih menegaskan bahwa majelis tersebut tidak sekadar menjadi forum keagamaan, melainkan juga wadah komunikasi langsung antara masyarakat dan pemangku kebijakan.
“Majelis ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, baik kepada legislatif maupun kepada Ketua DPC PKB Kabupaten Probolinggo, Lora Fahmi Abdul Haq Zaini,” ujar Gus Fatih.
Ia juga menambahkan bahwa kantor DPC PKB Kabupaten Probolinggo setiap hari Jumat dibuka untuk umum. Menurutnya, masyarakat dapat menyampaikan keluhan secara langsung yang nantinya akan ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangan, baik oleh anggota legislatif maupun melalui jalur eksekutif.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif. Dalam sesi ini, sejumlah jamaah menyampaikan keresahan terkait maraknya aksi kriminalitas jalanan (begal), minimnya penerangan jalan umum, serta tingginya harga gas subsidi di tingkat pengecer.
Menanggapi hal tersebut, Gus Fatih menjelaskan bahwa aparat kepolisian saat ini tengah intensif melakukan penanganan kasus begal dan telah berhasil mengamankan sejumlah pelaku. Selain itu, upaya pencegahan juga akan diperkuat melalui kebijakan pemasangan kamera pengawas (CCTV) di sejumlah titik strategis.
“Komisi III telah memanggil pihak ritel modern seperti Indomaret, Alfamart, dan Basmalah untuk memastikan setiap toko memasang minimal dua unit CCTV yang terintegrasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah. Targetnya, implementasi ini dapat mulai berjalan dalam waktu dekat,” jelasnya.
Terkait penerangan jalan umum, Gus Fatih mengakui bahwa persoalan tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah, terutama karena keterbatasan anggaran. Ia menyebutkan bahwa diperlukan dukungan pemerintah pusat agar program tersebut dapat direalisasikan secara optimal.
“Untuk penerangan jalan, ini memang membutuhkan proses. Dengan kondisi fiskal daerah saat ini, kemungkinan membutuhkan waktu hingga satu tahun agar wilayah Probolinggo dapat lebih terang dan aman,” ujarnya.
Sementara itu, terkait kelangkaan dan mahalnya harga gas subsidi, ia mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan praktik penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurutnya, minimnya laporan detail dari masyarakat menjadi kendala dalam proses pengawasan dan penindakan.
“Selama ini banyak keluhan, tetapi tidak disertai informasi lokasi yang jelas. Ini menyulitkan kami dalam melakukan identifikasi dan penindakan terhadap pelanggaran distribusi,” tegasnya.
Rutinan Majelis Sholawat Nariyah ini menunjukkan pergeseran fungsi ruang keagamaan menjadi medium partisipasi publik yang lebih luas. Selain memperkuat nilai spiritual, kegiatan ini juga berperan sebagai kanal komunikasi antara masyarakat dan pemangku kebijakan dalam merespons berbagai persoalan lokal secara langsung dan terbuka.