-->

Notification

×

Beriman di Era Klarifikasi: Ketika Akidah Diuji oleh Algoritma

Rabu, 29 Juli 2026 | Juli 29, 2026 WIB | Last Updated 2026-07-29T13:08:45Z
Tidak pernah dalam sejarah manusia, informasi bergerak sedemikian cepat seperti hari ini. Dalam hitungan detik, sebuah video ceramah dapat dipotong, diberi narasi baru, lalu disebarluaskan kepada jutaan orang. Sebuah kutipan ulama dapat dicabut dari konteksnya, dipertentangkan dengan pendapat lain, dan menjadi bahan perdebatan tanpa ujung. Ironisnya, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan dalam memverifikasi.

Di tengah derasnya arus digital, umat Islam menghadapi tantangan baru yang tidak kalah berat dibandingkan tantangan pada masa-masa sebelumnya. Musuhnya bukan hanya kebodohan, tetapi juga banjir informasi yang sering kali bercampur antara fakta, opini, dan manipulasi. Akibatnya, ruang publik dipenuhi perdebatan mengenai persoalan-persoalan akidah, saling menyalahkan, bahkan mudah menjatuhkan vonis kepada sesama Muslim hanya berdasarkan potongan video atau unggahan media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa akidah pada era digital bukan hanya diuji oleh syubhat pemikiran, melainkan juga oleh cara kita mengelola informasi. Keimanan tidak lagi cukup dipertahankan melalui hafalan dalil semata, tetapi juga melalui kemampuan bersikap bijak sebelum mempercayai dan menyebarkan sesuatu.

Dalam konteks seperti inilah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam al-Bukhari menjadi sangat relevan.سَتَكُونُ فِتَنٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، مَنْ
تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

“Akan datang berbagai fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barang siapa mendatangi fitnah, maka ia akan terseret ke dalamnya.”
(HR. Bukhari).

Hadis ini tidak sekadar berbicara tentang konflik politik atau peperangan sebagaimana konteks klasiknya. Nilai universal yang dikandungnya adalah ajakan untuk tidak tergesa - gesa ketika menghadapi situasi yang penuh kekaburan. Dalam bahasa kekinian, hadis tersebut mengajarkan budaya pause before share (berhenti sejenak sebelum bereaksi), berkomentar, atau membagikan informasi.

Sayangnya, budaya digital justru mendorong kebiasaan sebaliknya. Banyak orang merasa harus segera memberikan tanggapan, meskipun belum mengetahui duduk persoalan secara utuh. Algoritma media sosial bahkan memberi penghargaan terhadap konten yang memicu emosi, kemarahan, dan kontroversi. Akibatnya, fitnah tidak lagi berjalan perlahan, melainkan melesat mengikuti kecepatan internet.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian perdebatan justru berkaitan dengan persoalan-persoalan akidah yang semestinya dibahas secara ilmiah dan penuh kehati-hatian. Perbedaan penafsiran mengenai sifat-sifat Allah, persoalan mazhab, hingga perbedaan metode dakwah sering kali berubah menjadi saling mencela. Padahal, para ulama sepanjang sejarah menunjukkan adab yang tinggi dalam menyikapi perbedaan.

Keimanan sejatinya tidak hanya diukur dari seberapa banyak seseorang menguasai dalil, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama.

Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari).

Hadis ini mengingatkan bahwa iman memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Orang yang benar-benar beriman tidak akan mudah mempermalukan saudaranya di ruang publik, tidak tergesa-gesa menuduh sesat, apalagi menjadikan media sosial sebagai arena menghakimi. Sebaliknya, ia akan lebih memilih mencari penjelasan, melakukan tabayyun, serta menjaga kehormatan orang lain sebagaimana ia ingin kehormatannya sendiri dijaga.

Inilah yang sering terlupakan. Kita begitu bersemangat membela agama, tetapi terkadang lupa menjaga akhlak yang justru menjadi inti ajaran agama itu sendiri.

Di era digital, algoritma bekerja berdasarkan perhatian manusia. Semakin lama seseorang bertahan pada konten yang memicu emosi, semakin banyak konten serupa yang akan disajikan. Tanpa disadari, seseorang dapat hidup dalam ruang gema (echo chamber) yang hanya memperkuat prasangka dan kebencian terhadap kelompok lain. Dalam kondisi demikian, kemampuan berpikir kritis dan sikap tawaduk menjadi benteng utama agar tidak mudah terseret arus.

Karena itu, menjaga akidah pada masa sekarang tidak cukup hanya dengan memperbanyak hafalan. Menjaga akidah juga berarti membangun budaya literasi; memeriksa sumber informasi, memahami konteks, bertanya kepada ahlinya, serta tidak mudah mengambil kesimpulan dari potongan-potongan informasi yang belum utuh.

Klarifikasi bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari tanggung jawab seorang mukmin. Tabayyun merupakan manifestasi dari kejujuran intelektual yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Seseorang yang bersedia memeriksa kebenaran sebelum berbicara sesungguhnya sedang menjaga dirinya agar tidak menjadi penyebar fitnah.

Pada akhirnya, tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan sekadar banyaknya informasi, tetapi kemampuan membedakan mana ilmu, mana opini, dan mana provokasi. Kita memerlukan generasi yang tidak hanya cepat mengakses informasi, tetapi juga lambat dalam menghakimi. Generasi yang menjadikan ilmu sebagai kompas, adab sebagai pegangan, dan kasih sayang sebagai wajah keberagamaannya.

Mungkin, bentuk jihad intelektual yang paling dibutuhkan pada era ini bukanlah memenangkan setiap perdebatan di media sosial, melainkan menjaga kejernihan hati di tengah kebisingan informasi. Sebab, ketika akidah dipadukan dengan ilmu, adab, dan sikap tabayyun, keimanan tidak akan mudah digoyahkan oleh apa pun termasuk oleh algoritma yang setiap hari membentuk cara kita melihat dunia.


Penulis: Qurratul Aini
Program Studi Ilmu Hadis
STAI Nurul Qodim Paiton Probolinggo
×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->