
GADING-Banjir kembali melanda Desa Mojolegi, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, dalam beberapa hari terakhir, dan berdampak serius terhadap aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah. Peristiwa ini disebut sebagai banjir terparah dibanding kejadian sebelumnya, dengan kerugian material yang signifikan dan menyasar langsung kebutuhan dasar para santri.
Luapan air merendam lingkungan pondok pesantren dan mengakibatkan kitab-kitab pembelajaran, buku tulis, dokumen penting seperti ijazah, serta pakaian santri terbawa arus dan sebagian besar dalam kondisi basah kuyup. Tidak hanya itu, sepatu, sandal, hingga peralatan elektronik milik pondok, termasuk printer, ikut terendam banjir. Sejumlah fasilitas penunjang pondok, seperti kamar mandi santri dan tempat pembuangan sampah, juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat derasnya arus air.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah, Gus Saifullah, menyampaikan bahwa keselamatan santri tetap menjadi prioritas utama dan hingga saat ini kondisi santri dinyatakan aman.
“Alhamdulillah, santri di sini semuanya aman, tenang, dan nyaman. Namun kitab-kitab, buku-buku, serta sebagian pakaian milik santri terbawa arus banjir dan tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banjir kali ini berdampak langsung pada proses belajar-mengajar di pesantren.
Bantuan kitab sangat membantu sekali, karena banyak santri yang membutuhkan. Banyak kitab yang tenggelam saat banjir kemarin,” tambahnya.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, DPD LSM LIRA Kabupaten Probolinggo bersama DPW LSM LIRA Jawa Timur menyalurkan bantuan ke pondok pesantren tersebut pada Rabu, 21 Januari 2026, siang hari. Bantuan yang diberikan berupa kitab-kitab pembelajaran serta air mineral untuk menunjang kebutuhan dasar para santri pascabanjir.
Bupati LSM LIRA Kabupaten Probolinggo, Salamul Huda, S.H., menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini tidak hanya dimaknai sebagai aksi kemanusiaan, tetapi juga sebagai pengingat keras bagi pemerintah daerah, khususnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD), agar bertindak lebih responsif dan solutif.
“Bantuan ini bukan hanya bentuk dukungan moral kepada pondok pesantren, tetapi juga menjadi teguran agar OPD dan pemerintah tidak hanya datang berkunjung, melainkan mendata kebutuhan secara menyeluruh dan memberikan solusi nyata,” tegasnya.
Menurutnya, dampak banjir terhadap pondok pesantren dan madrasah kerap luput dari perhatian serius, padahal kerugian yang dialami bersifat fundamental dan berdampak jangka panjang.
“Kerugian-kerugian materi di pondok pesantren harus menjadi perhatian penting pemerintah daerah. Pemerintah harus turun langsung, bukan hanya melihat secara simbolik,” ujarnya.
Salamul Huda juga menyoroti pentingnya konsistensi seluruh unsur pemerintahan dalam penanganan bencana.
“Bupatinya sudah turun, wakil bupatinya sudah turun. Seharusnya OPD juga ikut bergerak cepat,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan peran legislatif agar tidak bersifat temporer dan simbolik dalam menyikapi bencana.
“Pondok pesantren jangan hanya dijadikan komoditas politik. Pesantren adalah akar moral bangsa, sehingga perhatian terhadapnya harus berkelanjutan, bukan hanya muncul pada momentum politik tertentu,” lanjutnya.
LSM LIRA berharap pemerintah daerah segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap kerugian pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain yang terdampak banjir, termasuk di wilayah Leces, Probolinggo Barat, dan Mojolegi, serta mengambil langkah konkret untuk mencegah bencana serupa terus berulang.(ma/ko)