
KREJENGAN - Banjir yang melanda Desa Opo-Opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, mendorong anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Fraksi PDI Perjuangan, Abdul Basit, turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat.
Legislator Daerah Pemilihan 7 tersebut menyambangi rumah-rumah warga terdampak, berdialog langsung dengan masyarakat, serta memantau kondisi tanggul dan alur sungai yang menjadi titik kritis luapan air. Ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan politik sebagai wakil rakyat.
“Sebagai wakil rakyat, saya harus hadir di tengah masyarakat saat kondisi seperti ini. Saya ingin melihat langsung kondisi warga dan mencari solusi agar persoalan ini tidak terus berulang,” ujar Abdul Basit kepada media, Senin (23/2/2025).
Ia menjelaskan bahwa penyebab banjir bukan semata karena intensitas hujan yang cukup deras dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, terdapat faktor lain yang memperparah situasi, yakni jebolnya tanggul
“Ini bukan hanya karena curah hujan tinggi. tapi juga Ada tanggul yang jebol . Itu menjadi salah satu penyebab air meluap ke permukiman warga,” tegasnya.
Basit juga menyoroti proses normalisasi sungai yang saat ini tengah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia menyayangkan karena dalam satu pekan terakhir pekerjaan tersebut diliburkan, sehingga progres penanganan belum maksimal saat debit air meningkat.
“Normalisasi memang sedang berjalan, tetapi sangat disayangkan dalam satu minggu terakhir ini pekerjaan libur. Padahal kondisi cuaca tidak bisa diprediksi. Ketika proyek berhenti sementara debit air meningkat, risikonya semakin besar,” ungkapnya.

Pada malam sebelumnya, di tengah kondisi banjir yang masih menggenangi sejumlah titik, Abdul Basit membuka dapur umum menggunakan dana pribadinya dan menyediakan santap sahur bagi warga terdampak. Ratusan nasi bungkus dibagikan kepada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan konsumsi.
“Kami menyediakan ratusan nasi bungkus untuk sahur. Kondisi banjir memang tidak memungkinkan warga memasak. Banyak kompor yang sudah tenggelam, dan untuk ke warung pun tidak mungkin karena akses terendam,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk respons cepat dalam situasi darurat, sebelum penanganan lebih luas terkoordinasi secara menyeluruh. Namun ia menekankan bahwa bantuan logistik hanyalah solusi sementara.
Abdul Basit memastikan akan berkoordinasi dengan pihak pengairan Kabupaten Probolinggo dan Provinsi Jawa Timur untuk mempercepat normalisasi sungai serta mengevaluasi konstruksi tanggul yang jebol.
Ia berharap penanganan tidak berhenti pada respons darurat, tetapi berlanjut pada solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Hingga kini, air di Desa Opo-Opo mulai berangsur surut di beberapa titik. Warga masih melakukan pembersihan lumpur dan memperbaiki kerusakan rumah, sembari berharap langkah konkret segera diambil agar banjir serupa tidak kembali terulang.(IN)