-->

Notification

×

Ahmad Fawaid Raih LPTNU Award 2026, Bukti Kontribusi Akademisi UNUJA dalam Kajian Al-Qur’an

Rabu, 11 Maret 2026 | Maret 11, 2026 WIB | Last Updated 2026-03-11T09:45:28Z

PROBOLINGGO - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh akademisi asal Probolinggo. Dr. Ahmad Fawaid, M.Th.I., dosen Universitas Nurul Jadid (UNUJA), meraih penghargaan dalam ajang Anugerah LPTNU Award 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Selasa (10/3/2026) malam.


Dalam ajang tersebut, Ahmad Fawaid berhasil meraih Juara II kategori Dosen dengan Karya Ilmu Agama Berpengaruh pada bidang Tafsir Al-Qur’an dan Hadis. Penghargaan ini diberikan kepada akademisi yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).

Fawaid mengaku tidak menyangka akan menerima penghargaan tersebut. Ia bahkan baru mengetahui kabar tersebut melalui informasi yang dibagikan dalam grup komunikasi pimpinan perguruan tinggi.


“Saya merasa sangat terhormat menerima anugerah LPTNU ini. Jujur saya kaget, karena informasi itu saya terima dari rektor yang kebetulan hadir dalam acara tersebut dan menyampaikan di grup telegram pimpinan perguruan tinggi. Saya sendiri tidak diundang, sehingga ini menjadi kejutan tersendiri di bulan Ramadan,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Rabu (11/3/2026).

Menurut Fawaid, Al-Qur’an tetap memiliki relevansi kuat dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan modern. Ia menilai kitab suci tersebut tidak hanya menjadi rujukan spiritual, tetapi juga sumber inspirasi dalam memahami dinamika sosial yang terus berkembang.

“Al-Qur’an adalah tempat berpulangnya berbagai persoalan kehidupan sekaligus sumber inspirasi bagi umat manusia. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu mengaktualisasikan pesan-pesan Al-Qur’an agar tetap selaras dengan tuntutan zaman,” jelasnya.

Konsisten Mengangkat Isu Aktual

Fawaid menuturkan bahwa jumlah karya yang ia tulis memang tidak terlalu banyak dibandingkan sebagian akademisi lain. Namun, ia berupaya memastikan setiap tulisan yang dihasilkan memiliki relevansi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Saya tidak memiliki banyak tulisan, mungkin tidak seperti sebagian dosen lain yang rutin menerbitkan riset setiap beberapa bulan. Tetapi bagi saya, tulisan harus berkaitan dengan realitas yang kita hadapi hari ini,” katanya.

Ia mencontohkan beberapa tema yang pernah ia angkat dalam kajian ilmiahnya, seperti relasi Al-Qur’an dengan media sosial, hingga fenomena budaya populer dan panggung hiburan dalam perspektif kajian keislaman.

“Isu-isu seperti Al-Qur’an dan media sosial di Indonesia, atau Al-Qur’an dalam konteks budaya populer, menjadi penting untuk dibahas agar pesan Al-Qur’an tetap kontekstual dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” tambahnya.

Budaya Riset di Lingkungan Kampus

Fawaid juga menilai dukungan institusi memiliki peran penting dalam mendorong berkembangnya budaya riset di perguruan tinggi. Ia menyebut Universitas Nurul Jadid secara konsisten mendorong para dosennya untuk aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Rektor UNUJA, KH Dr. Najiburrahman, M.Ag., sangat konsisten memberikan perhatian pada riset dan pengabdian masyarakat. Bahkan ada kebijakan yang secara langsung mendorong dosen untuk aktif melakukan penelitian,” ujarnya.

Menurutnya, kajian terhadap Al-Qur’an akan terus berkembang dari generasi ke generasi, seiring dengan perubahan konteks sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.

“Al-Qur’an itu seperti mutiara yang memiliki banyak sisi. Setiap sisi memancarkan cahaya. Karena itu, pemahaman kita terhadap Al-Qur’an hari ini bisa berbeda dengan pemahaman kita pada masa sebelumnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa aktivitas riset juga berkaitan erat dengan pengembangan karier akademik serta peningkatan kesejahteraan dosen.

“Sebagai dosen, kita memang dituntut untuk melakukan riset. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pengembangan ilmu, tetapi juga dengan jenjang karier dan kesejahteraan dosen,” ujarnya

Apresiasi bagi Civitas Akademika PTNU

Sementara itu, Ketua LPTNU, Prof. Dr. H. Ainun Na’im, Ph.D., menyampaikan bahwa Anugerah LPTNU Award 2026 merupakan ajang pertama yang digelar sebagai bentuk apresiasi kepada civitas akademika di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

“Anugerah LPTNU 2026 ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada PTNU di seluruh Indonesia, khususnya kepada civitas akademika yang telah berprestasi dan mendedikasikan keilmuannya dalam bidang pendidikan tinggi,” ujarnya.

Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi perguruan tinggi Nahdlatul Ulama untuk terus meningkatkan kualitas akademik serta memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Prestasi yang diraih Ahmad Fawaid pun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kalangan akademisi muda, khususnya di lingkungan Universitas Nurul Jadid dan masyarakat Probolinggo, untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.(IN)

×
Berita Terbaru Update
Lapor Portal

Dukung Portal Probolinggo

QRIS Portal Probolinggo

Scan kode QRIS di atas untuk berdonasi

💸
Scan QRIS untuk Donasi

QRIS Portal Probolinggo

-->